KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DAN PERSEBARANNYA
Disusun
oleh,
1. Sulthan Zaki (116040137)
2. Euis Amalia S N (116040135)
3. Rizka Fatmala (116040127)
Akuntansi
1-F
UNIVERSITAS
SWADAYA GUNUNG JATI
Jalan Pemuda No. 32,
Sunyaragi, Kesambi, Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 45132,
Indonesia
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
................................................................................................................. 3
Biosfer dan Makhluk
Hidup .............................................................................................. 4
Asal Mula Kehidupan dan
Evolusi Makhluk Hidup di Bumi ............................................ 10
Keanekaragaman Makhluk
Hidup ...................................................................................... 14
Persebaran Makhluk
Hidup ................................................................................................ 20
Daftar Pustaka
.................................................................................................................... 27
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke
Hadirat Allah SWT karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas
“Keanekaragaman Makhluk Hidup dan Persebaranya”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis
banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai
pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat
balasan yang setimpal dari Allah
SWT.
Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya.
Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan
makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada
kita sekalian.
A.
Biosfer dan Makhluk Hidup
Biosfer
Biosfer adalah zona
tipis di bumi dan di atas permukaan bumi yang tidak lebih dari 20 km tebalnya.
Sampai saat ini, bumi merupakan satu-satunya tempat di alam dunia yang
diketahui terdapat kehidupan dan tempat makhluk hidup melangsungkan segala aktivitas
hidupnya. Makhluk hidup itu selalu berinteraksi dengan lingkungannya, yang
terdiri dari lingkungan tak hidup (abiotik) dan lingkungan hidup (biotik).
Biosfer terdiri dari
sebagian lapisan atmosfer dan lapisan kulit bumi. Lapisan atmosfer adalah merupakan
lapisan udara di atas bumi membungkus bumi dengan gas-gas dan terdiri dari 3
lapisan utama:
Ionosfer : (berada lebih dari 80 km di atas muka
bumi).
Stratosfer : (berada pada 16 – 80 km di atas muka bumi).
Troposfer : (berada pada 0 – 16 km di atas muka bumi).
Troposfer adalah
lapisan yang dinamis, di mana terdapat uap air yang dapat membentuk awan dan
hujan periodik. Sampai saat ini, baru diketahui bahwa makhluk hidup hanya dapat
beraktivitas di lapisan troposfer ini.
Lapisan kulit bumi terdiri
dari dua bagian:
Litosfer : merupakan
bagian yang padat dari lapisan kulit bumi
Hidrosfer : merupakan
bagian yang cari dari lapisan kulit bumi
Seperti diketahui,
makhluk hidup tinggal dan beraktivitas di kedua lapisan kulit bumi tersebut.
Jadi makhluk hidup hanya dapat beraktivitas pada lapisan troposfer dari
atmosfer, hidrosfer dan litosfer. Oleh karena itu, ketiga lapisan tersebut
disebut dengan lapisan biosfer.
Sel Sebagai Unit
Kehidupan
Sel merupakan unit
kehidupan, baik dari segi struktural, pertumbuhan, reproduksi, hereditas dan
fungsional. Sel sebagai unit struktural maksudnya adalah sel merupakan satuan
terkecil penyusun tubuh organisme. Organisme multiseluler, tubuhnya dibangun
oleh banyak sel yang diperoleh dari pembelahan mitosis berulang-ulang sebuah
sel tunggal (monoseluler) yang disebut zigot. Akibatnya organisme mengalami
pertumbuhan. Oleh karena itu dikatakan sel sebagai unit pertumbuhan. Zigot
dihasilkan dari peleburan sel kelamin (sel benih) jantan dan betina. Karena
dari sel kelamin dapat dihasilkan individu baru, sel dikatakan juga sebagai
unit produksi. Masing-masing sel kelamin (sel kelamin jantan dan sel kelamin
betina) membawa materi genetik (genom) sebagai penentu sifat (karakter) yang
akan diwariskan kepada turunannya (individu baru). Sifat oleh karena itu sel
dikatakan juga sebagai unit hereditas. Di dalam masing-masing sel penyusun
tubuh makhluk hidup terselenggara semua aktivitas kehidupan, baik pada
organisme uniseluler, organisme yang selnya bergabung membentuk koloni dan pada
organisme uniseluler. Pada organisme uniseluler, seluruh aktivitas hidup
dilaksanakan oleh sel tersebut. Pada organisme yang berbentuk koloni belum
tampak diferensiasi fungsi yang jelas dari masing-masing sel penyusun
koloninya. Sedangkan organisme multiseluler terdapat diferensiasi fungsi untuk
menjalankan aktivitas kehidupan. Komposisi kimiawi sel yang spesifik, kemampuan
melaksanakan metabolisme, reproduksi, tumbuh menjadi besar, tanggap terhadap
rangsang dan berdaur hidup adalah hal-hal yang membedakan organisme dengan
benda mati.
Agar dapat melaksanakan
seluruh aktivitas hidup, sel harus memiliki bagian-bagian utama, yaitu membran
plasma, protoplasma (cairan sel atau sitoplasma dengan seluruh organel-organel
sel yang terdapat di dalamnya), dan nukleus yang mengandung materi genetik
(genom).
Reproduksi Sel dan
Makhluk Hidup
Reproduksi Sel
Reproduksi sel dapat
diartikan sel memperbanyak diri, baik yang terjadi pada organisme tingkat sel
(uniseluler) maupun yang terjadi pada sel-sel penyusun tubuh organisme
multiseluler.
Reproduksi sel dapat
dibedakan atas: amitosis dan meiosis. Amitosis adalah pembelahan langsung tanpa
melalui tahapan. Pada amitosis, mula-mula nukleus membelah kemudian diikuti
pembagian sitoplasma dari sel induk, dan dari satu sel induk bisa terbentuk dua
sel baru atau lebih. Mitosi adalah pembelahan sel melalui beberapa tahapan
utama yaitu: profase, metafase, anafase dan telofase. Mitosis ditujukan untuk
memperbanyak sel, biasanya terjadi pada proses pertumbuhan individu dan perbaikan
(pengganti) sel-sel tubuh yang rusak. Pembelahan mitosis akan menghasilkan sel
anak yang merupakan duplikat sel induknya, dimana jumlah dan kandungan kromosom
sel anak dipertahankan sama seperti jumlah dan kandungan kromosom sel induknya,
dan dari satu sel induk dihasilkan dua sel anak. Meiosis adalah pembelahan sel
yang bersifat reduksi dari sel yang diploid menjadi sel haploid (terjadi
penurunan jumlah kromosom sel anak menjadi setengah jumlah kromosom sel
induknya), dan dari satu sel induk menjadi empat sel anak. Meiosis terdiri dari
dua tahap pembelahan yaitu meiosis I dan meiosis II. Meiosis I terdiri dari
profase I yang terbagi lagi menjadi 5 fase yaitu leptonema, zygonema,
pakhinema, diplonema, dan diakinesis. Pada profase I ini terjadi peristiwa
crossing over yang berakibat keragaman genetik pada sel anak (gamet). Akibatnya
variasi individu yang dihasilkan dari peleburan gamet jantan dan gamet betina
sangat banyak. Metafase I, anafase I dan telofase I adalah mekanisme pemisahan
kromosom yang homolog dan menghasilkan 2 sel anak dengan kromatid diad. Miosis
II terdiri dari profase II, metafase II, anafase II dan telofase II dan
merupakan mekanisme pemisahan kromatid diad serta menghasilkan 4 sel anak
dengan kromosom haploid. Meiosis terjadi pada proses pembentukan sel kelamin
pada sistem reproduksi bagi individu yang bereproduksi secara seksual.
b. Reproduksi Makhluk Hidup
Bagi setiap makhluk
hidup, ada saatnya dimana kemampuan untuk melaksanakan metabolisme,
pertumbuhan, dan daya tanggapnya terhadap rangsang tidak memadai lagi untuk
mempertahankan organisasinya yang rumit terhadap kekuatan-kekuatan lain.
Serangan pemangsa, parasit, kelaparan, faktor lingkungan yang ekstrim, atau
proses menua (aging) dapat mematikan makhluk hidup. Oleh karena itu, sebelum
makhluk hidup menghasilkan individu baru melalui proses reproduksi.
Proses yang dilakukan
oleh makhluk hidup untuk menghasilkan individu baru (keturunan) dari jenisnya
dinamakan reproduksi (perkembangbiakan). Tujuan reproduksi adalah untuk mempertahankan
kelestarian suatu spesies (jenis) makhluk hidup.
Banyak cara reproduksi
yang dilakukan oleh organisme. Cara-cara
reproduksi tersebut dikelompokkan atas: 1) reproduksi aseksual
(vegetatif), dan 2) reproduksi seksual (generatif).
Reproduksi aseksual
adalah jenis reproduksi yang dilakukan oleh suatu organisme dengan melibatkan
sel tubuh saja tanpa melibatkan sel kelamin. Pada hewan, perkembangbiakan
seperti ini umumnya hanya dijumpai pada hewan rendah, misalnya paramaecium,
amoeba, dan euglena dengan membelah diri; hydra dan ubur-ubur dengan bertunas;
bintang laut dan planaria dengan fragmentasi. Pada tumbuhan reproduksi aseksual
dilakukan oleh tumbuhan rendah sampai tumbuhan tinggi; misalnya membentuk spora
pada algae dan lumut; tunas, umbi, rizoma pada tumbuhan tinggi.
Reproduksi seksual
adalah perkembangbiakan makhluk hidup yang melibatkan sel kelamin (gamet).
Dengan demikian, yang dimaksud reproduksi seksual bukan hanya perkembangbiakan
melalui perkawinan (peleburan sel kelamin jantan dan betina) saja, tetapi
partenogenesis pun termasuk di dalamnya. Partenogenesis adalah reproduksi
seksual dimana gamet betina (ovum) tumbuh menjadi embrio tanpa menyatu dengan
gamet jantan (sperma). Partenogenesis ini dijumpai pada lebah, semut, lalat
buah, dan lain-lain. Konyugasi pun dimasukkan ahli ke dalam jenis reproduksi
seksual.
Selain reproduksi yang
berlangsung secara alami, kita kenal pula ada reproduksi buatan, baik yang
dilakukan secara in vivo maupun in vitro. Reproduksi buatan biasanya dilakukan oleh
manusia untuk meningkatkan kesejahteraannya. Misalnya reproduksi buatan yang
dilakukan pada tumbuhan dan hewan ternak.
1) Reproduksi Alami pada Hewan
Hewan dapat melakukan
reproduksi aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual pada hewan sedikit terjadi
jika dibandingkan dengan tumbuhan, dan hanya terbatas pada hewan tingkat
rendah, yaitu dengan cara pembelahan sel, pertunasan (“budding”), dan
fragmentasi.
– Pembelahan: Terjadi pada hewan bersel
satu (Protozoa), misalnya amoeba, paramaecium, dan euglena.
– Pertunasan (budding): Terjadi pada Hydra sp, ubur-ubur, dan lain-lain.
Keturunan baru berkembang dari tunas yang tumbuh pada tubuh induk. Pada
beberapa spesies, misalnya ubur-ubur dan Hydra sp, tunas akan lepas dan dapat
hidup bebas. Pada koral, tunas tetap terikat pada tubuh induk dan menyebabkan
terjadinya koloni.
– Fragmentasi: Terjadi pada beberapa
jenis cacing (misalnya planaria), bintang laut, ular, dan lain-lain. Pada
beberapa jenis cacing, setelah tubuh mencapai ukuran normal (dewasa), secara
spontan cacing tersebut terbagi-bagi menjadi delapan atau sembilan bagian.
Setiap bagian akan berkembang menjadi cacing dewasa dan proses ini terulang
kembali.
Reproduksi seksual
merupakan cara reproduksi pada hampir semua hewan mulai hewan tingkat rendah
sampai hewan tingkat tinggi. Reproduksi seksual melibatkan kelenjar kelamin
(gonad) untuk menghasilkan gamet jantan (sperma) dan gamet betina (ovum atau
sel telur). Pada umumnya reproduksi seksual terjadi melalui penyatuan sperma
dan ovum saat berlangsungnya pembuahan (fertilisasi), walaupun pada
partenogenesis ovum dapat berkembang menjadi individu baru tanpa fertilisasi.
Sperma memiliki bentuk dan ukuran yang jauh berbeda dengan ovum sehingga
disebut heterogamet.
2) Reproduksi Alami pada Tumbuhan
Sebagaimana yang
terjadi pada hewan, tumbuhan juga melakukan reproduksi aseksual dan seksual.
Bedanya, pada tumbuhan, semua tingkatan mulai dari tumbuhan tingkat rendah
sampai tumbuhan tingkat tinggi mampu melakukan reproduksi aseksual maupun
seksual. Pada tumbuhan, fertilisasi dan meiosis membagi kehidupan individu
menjadi dua fase atau generasi, yaitu generasi gametofit mulai dengan spora
yang dihasilkan saat meiosis. Spora ini haploid dan semua sel yang
diturunkannya juga haploid. Diantara sel-sel yang dihasilkan generasi sporofit
mulai dengan zigot yang diploid, semua sel yang berasal dari sini yang berkembang dengan cara mitosis juga
diploid. Akhirnya sel-sel tertentu akan menjalani meiosis sehingga terbentuk
spora-spora, pertanda dimulai kembali generasi gametofit.
3) Reproduksi Buatan
Reproduksi buatan
umumnya sengaja dilakukan oleh manusia untuk menunjang kesejaheraanya.
Reproduksi buatan ini dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro.
Reproduksi vegetatif buatan sangat banyak dilakukan manusia pada tumbuhan,
misalnya memperbanyak tanaman dengan stek, cangkok, menyambung, menempel, dan
lain-lain. Kesemua cara ini ditujukan agar tanaman berproduksi dalam waktu yang
cepat dan kualitas baik.
Pada hewan ternak,
reproduksi buatan in vivo dilakukan dengan mempertemukan gamet jantan dan
betina tetap dalam tubuh hewan betina, tetapi dengan metode kawin suntik. Pada
proses ini, sperma dari hewan jantan yang kita inginkan ditransfer ke dalam
saluran kelamin hewan betina yang sedang birahi dengan sejenis alat yang
mempunyai jarum suntik, sehingga disebut kawin suntik.
Pada reproduksi buatan
in vitro (yang sangat dikenal dengan bayi tabung pada manusia), reproduksi
dilakukan dengan cara menyatukan gamet jantan dan gamet betina di luar tubuh
hewan yang bersangkutan, yang biasanya digunakan cawan petri, karena itulah
disebut in vitro yang secara harfiah
artinya di dalam gelas (cawan). Setelah terjadi pembuahan dalam cawan, embrio dibiarkan
berkembang sampai stadium blastula, kemudian ditransfer ke dalam rongga uterus
(rahim) ibu. Di dalam rahim itu embrio berkembang, berimplantasi, dan menjadi
individu baru seperti pada kehamilan biasa. Teknik seperti ini sering disebut
bayi tabung.
B.
Asal Mula Kehidupan dan Evolusi Makhluk Hidup di Bumi
1. Hipotesis tentang Asal Mula Kehidupan
Pertanyaan mengenai
bagaimana kehidupan pertama dimulai di bumi masih menjadi pendebatan dari
dahulu sampai sekarang. Aristoteles 3,5 abad sebelum masehi mengemukakan teori
abiogenesis yang menyatakan bahwa makhluk hidup muncul secara spontan dari
benda mati (generatio spontanea). Penemuan jasad renik oleh Anthonie Van
Leeuwenhoek abad ke 17 pada air rendaman jerami dianggap oleh pendukungnya
sebagai bukti pendukung teori abiogenesis. Teori ini ditentang oleh Francesco
Redi, Lazzaro Spallanzani dan Louis Pasteur dengan teori biogenesis, yang
meyakini bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup yang telah ada
sebelumnya. Hasil penelitian yang mereka lakukan mengungkapkan bahwa: setiap
kehidupan berasal dari telur (omme visum ex ovo), setiap telur berasal dari
kehidupan sebelumnya (omne ovum ex vivo), dan setiap kehidupan berasal dari
kehidupan sebelumnya (omne vivum ex vivo).
Skenario hipotesis,
organisme pertama merupakan produk suatu evolusi kimiawi yang terdiri dari
tahapan-tahapan berikut:
Sintesis abiotistas
hidup dan akumulasi molekul organik kecil atau monomer seperti asam amino dan
nukleoida.
Penyatuan
monomer-monomer menjadi polimer, termasuk protein dan asam nukleat (DNA dan
RNA).
Segregasi
molekul-molekul tersebut menjadi droplet (tulisan) yang disebut dengan
protobion.
Protobion asal mula
hereditas untuk menjalankan fungsi kehidupan.
Evolusi kimia ini
didukung dengan postulat dari Oparin dan J.B.S. Haldane, bahwa bumi primitif
mendukung terjadinya reaksi kimia untuk mensintesis senyawa organik yang
berasal dari prekursor organik yang terdapat pada atmosfer dan lautan
purbakala. Atmosfer pereduksi (penambah elektron) semacam itu meningkatkan
penggabungan molekul sederhana untuk membentuk moleku komplek.
Pada tahun 1953 Stanley
Miller dan Harold Urey menguji hipotesis Oparin-Haldane dengan percobaan di
laboratorium. Keadaan percobaan dibuat sesuai dengan keadaan bumi purbakala.
Atmosfer dalam model Miller-Urey terdiri dari H2O, H2, CH4 (metana) dan NH3
(amoniak), yang diyakini banyak terdapat di dunia purbakala. Percobaan mereka
menghasilkan berbagai jenis asam amino dan senyawa organik lainnya.
Banyak laboratorium
mengulangi percobaan Miller-Urey dengan menggunakan berbagai jenis campuran
sebagai susunan atmosfer. Banyak pula saintis yang meragukan bahwa kondisi
atmosfer purbakala berperan penting dalam reaksi kimia purbakala.
Banyak diantara ahli
biologi sekarang membayangkan suatu “dunia RNA”, suatu periode awal dalam
evolusi kehidupan ketika molekul RNA berfungsi sebagai gen yang belum sempurna
dan sebagai katalis organik. Beberapa saintis telah menguji beberapa hipotesis
mengenai RNA yang bereplikasi sendiri. Polimer pendek ribonukleotida telah
dihasilkan secara abiotik dalam percobaan di dalam laboratorium.
Protobion tumbuh dan
membelah membagikan salinannya kepada keturunan, keturunannya akan
beranekaragam karena adanya mutasi dalam penyalinan RNA. Evolusi dalam
pengertian Darwinian yang sesungguhnya keberhasilan reproduktif yang berbeda
pada individu yang berbeda, agaknya mengumpulkan banyak perbaikan pada
metabolisme primitif dan pewarisan. Salah satu tren mengarah ke RNA sebagai
materi hereditas. Pada mulanya, RNA dapat menyediakan cetakan tempat perakitan
nukleotida DNA. Akan tetapi DNA merupakan tempat penyimpanan informasi genetik
yang lebih stabil dari RNA, dan begitu DNA muncul, molekul RNA menulis peranan
barunya sebagai perantara dalam translasi (perterjemahan) kodegenetik. “Dunia
RNA” membuka jalan bagi “dunia DNA”.
Perdebatan mengenai
asal mula kehidupan di bumi sangat banyak, dengan cara apapun bahan kimia
prebiotik berakumulasi membentuk polimer dan akhirnya bereproduksi di bumi,
lompatan dari satu kumpulan molekul menjadi sel-sel prokariotik yang paling
sederhana merupakan suatu peristiwa yang sangat besar dan perubahan pastilah
telah terjadi dalam banyak tahapan evolusi yang lebih kecil. Kita mengetahui
melalui bukti fosil bahwa prokariotik sudah mulai mengalami pertumbuhan sekitar
3,5 miliar tahun silam dan semua garis keturunan muncul dari prokariotik kuno
tersebut.
2. Proses Evolusi Makhluk Hidup di Bumi
Beberapa episode utama
dalam sejarah kehidupan yang penentuan waktu kejadiannya berdasarkan pada bukti
fosil dan analisis molekuler menunjukkan perubahan makhluk hidup dari bentuk
yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks dan bervariasi terjadi karena DNA
mengalami perubahan kode genetik (mutasi). Kode genetik yang paling sesuaid
keadaan lingkungan akan mendapat peluang yang lebih baik untuk berkembang. Organisasi
yang dapat bertahan hidup di lingkungan tertentu disebut dengan adaptasi.
Makhluk hidup yang mampu beradaptasi terhadap lingkungan hidupnya dapat
mengembangkan populasinya, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan punah
inilah yang disebut dengan seleksi alamiah (natural selection).
Kehidupan dimulai
sangat dini dalam sejarah bumi, dan organisme pertama merupakan nenek moyang
dari keanekaragaman biologis yang kita lihat saat ini. Organisme makroskopis
dan multiseluler terutama tumbuhan dan hewan serta manusia berasal dari
organisme mikroskopis dan uniseluler (bersel tunggal).
Dari sejarah kehidupan
di bumi, diperkirakan bumi dibentuk 4,5 milyar tahun silam. Kehidupan di bumi
diperkirakan bermula antara 3,5 – 4.0 miliar tahun silam. Setelah bumi cukup
dingin muncul kehidupan pertama sekitar 3,8 miliar tahun silam yang dibuktikan
dengan isotop karbon hasil aktivitas metabolis organisme dalam batuan yang
berumur 3,8 miliar tahun silam di Greenland (tanah hijau di kutup Utara), yang
diperkirakan oleh saintis adalah organisme prokariotik. Organisme prokariotik
berfilamen berumur 3,5 miliar tahun silam, fosilnya ditemukan di Afrika Selatan
dan Australia Barat. Kehidupan prokariotik purba ini ditemukan pada batuan yang
disebut stromatolit (bahasa Yunani: stroma = tempat tidur, dan lithos = batu). Stromatolit adalah kubah
bergaris-garis yang tersusun dari batuan sedimen. Fosil tersebut saat ini
merupakan fosil organisme hidup tertua yang diketahui. Namun demikian fosil
yang terdapat di Australia Barat tampak seperti organisme fotosintetik, yang
mungkin merupakan organisme penghasil oksigen. Jika demikian halnya, maka
mungkin kehidupan telah berkembang jauh sebelum organisme ini hidup,
kemungkinan sekitar 4,0 miliar tahun silam.
Sekitar 2,5 miliar
tahun silam produksi oksigen (O2) oleh prokariotik primitif dan menciptakan
atmosfer aerob yang memulai suatu tahapan untuk evolusi kehidupan aerob.
Sementara evolusi prokariotik terus berlanjut, beberapa organisme mampu
menggunakan oksigen untuk metabolisme makhluk organik atau (siano bakteri
fotosintetik). Sekitar 1,7 miliar tahun silam sel eukariotik telah berevolusi
dari komunitas prokariota. Organisme multiselule muncul sebelum hewan tertua
muncul di sekitar 500 juta tahun silam dan evolusi terus terjadi seiring dengan
pergeseran benua. Zaman keemasan reptil, tumbuhan berbunga dan mamalia ada pada
zaman mesozoikum dan awal senozoikum. Akhirnya, makhluk hidup dengan segala
kompleksitas struktur tubuh dan beranekaragam spesies seperti yang kita lihat
sekarang ini diduga terjadi akibat proses evolusi dalam waktu yang sangat
panjang. Manusia berada pada puncak evolusi makhluk hidup.
C. Keanekaragaman Makhluk Hidup
1. Penyebab Keanekaragaman Makhluk Hidup
Tidak ada makhluk hidup
di alam ini yang persis sama satu dengan yang lain jika dilihat dari sifat atau
karakter yang tampak maupun dari sifat atau karakter yang tidak tampak.
Masing-masing individu dalam suatu jenis (spesies) memperlihatkan perbedaan
bentuk tubuh, warna, ukuran, kecerdasan, dan lain-lain. Bahkan
individu-individu yang berasal dari induk yang sama, juga menunjukkan perbedaan
sifat. Apalagi jika dibandingkan individu yang berbeda jenisnya. Semua ini
menunjukkan adanya keanekaragaman makhluk hidup. Pertanyaan yang muncul adalah:
Mengapa terjadi keanekaragaman makhluk hidup? Apakah makhluk hidup yang
beranekaragam ini berasal dari nenek moyang yang sama? Para ahli telah mencoba
mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Bahkan telah mencoba pula menyusun
hipotesis tentang bagaimana munculnya makhluk hidup yang beranekaragam
tersebut.
Menurut para ahli,
keanekaragaman makhluk hidup seperti yang kita lihat sekarang ini terbentuk
dari proses evolusi. Ketika bumi baru saja terbentuk, yang terjadi adalah
proses evolusi yang lebih besar, yang kemudian memunculkan sel pertama
(ancestor cell). Setelah dalam waktu yang cukup lama dalam sejarah evolusi,
dari sel pertama ini kemudian memunculkan organisme multiseluler pada awal era
Paleozoikum. Proses evolusi makhluk hidup berlanjut seiring dengan perubahan
iklim dan pergeseran benua. Pada akhirnya sebagai hasil proses evolusi,
bermunculanlah beranekaragam makhluk hidup. Zaman keemasan Reptilia, Tumbuhan
Berbunga, dan Mammalia terjadi pada akhir era Mesozoikum (Mesozoic) dan awal
era Senozoikum (cenozoic).
Walaupun Charles Robert
Darwin mencetuskan evolusi sebagai suatu teori yang menyebabkan makhluk hidup
berubah dan menjadi beraneka ragam melalui proses seleksi alam dalam waktu yang
sangat lama, namun ia belum mengetahui tentang DNA dan mekanisme pewarisannya.
Namun demikian diketahui bahwa variasi yang ada pada individu bersifat genetis.
Kemudian diketahui bahwa sumber terjadinya variasi adalah mutasi, yaitu
perubahan susunan kimiawi DNA yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan
waktu lama. Mutasi memodifikasi DNA dan menyebabkan terjadinya spesies baru
(spesiasi). Jadi mekanisme evolusi adalah akumulasi perubahan secara bertahap
dalam kurun waktu lama, sampai suatu kelompok organisme cukup nyata berbeda
dari kelompok asalnya sehingga dapat disebut sebuah spesies baru. Hal tersebut
dapat terjadi bila ada penghalang fisik yang memisahkan suatu populasi induknya
(yang akan menghasilkan spesiasi alopatrik), atau gene pools mereka menjadi
terpisah akibat adanya variasi lingkungan
(yang akan menghasilkan spesiasi parapatrik). Pola evolusi dikenal
dengan evolusi divergen (bila dua atau lebih spesies berevolusi dari sebuah
leluhur yang sama), dan evolusi konvergen (bila evolusi organisme yang berasal
dari leluhur yang berbeda, beradaptasi pada lingkungan hidup yang sama).
Keanekaragaman makhluk
hidup menunjukkan totalitas variasi gen, jenis dan ekosistem yang dijumpai di
suatu daerah. Keanekaragaman makhluk hidup menyatakan terdapatnya berbagai
macam variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat lain yang terlihat
pada tingkat yang berdeda-beda. Keanekaragaman makhluk hidup meliputi berbagai
macam aspek seperti ciri-ciri morfologi, anatomi, fisiologi, dan tingkah laku
makhluk hidup yang selanjutnya akan menyusun suatu ekosistem tertentu.
Keanekaragaman makhluk hidup tidak hanya terjadi antar jenis tetapi juga di
dalam satu jenis. Keanekaragaman antar jenis misalnya antara bawang merah
dengan bawang putih, sedangkan keanekaragaman dalam satu jenis misalnya antara
varietas padi, padi Jawa, padi Cianjur dan lain-lain.
2. Pengelompokan (Klasifikasi Makhluk Hidup)
Untuk mengetahui
ciri-ciri morfologi, anatomi, fisiologi, perilaku atau ciri-ciri lainnya dari
makhluk hidup, langkah pertama yang harus dilakukan adalah identifikasi yaitu
menentukan nama ilmiah dan kelompok makhluk hidup sesuai dengan Kode Tata Nama
Internasional. Identifikasi merupakan kegiatan utama klasifikasi, dengan
klasifikasi keanekaragaman hayati makhluk hidup dapat dipelajari dan dipahami
dengan lebih mudah dan utuh.
Klasifikasi makhluk
hidup dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu sistem buatan (artifisial), sistem
alamiah dan sistem filogenetik. Sistem buatan yaitu pengelompokan makhluk hidup
yang didasarkan lebih banyak kepada ciri-ciri morfologi atau habitatnya, tetapi
penggunaan ciri-ciri alami masih terbatas sehingga kelompok-kelompok yang
dihasilkan juga terbatas.
Tingkatan pada Takson
dalam Klasifikasi antara lain ialah sebagai berikut ini :
1.
Regnum (Dunia) atau juga Kingdom (Kerajaan)
Kingdom ialah tingkatan
pada takson yang paling tinggi dengan jumlah anggota pada takson terbesar.
Organisme pada bumi tersebut dikelompokkan menjadi 5 kingdom, antara lain ialah
sebagai berikut kingdom :
1.Animalia (ialah
hewan),
2.Plantae (ialah
tumbuhan),
3.fungi (jamur),
4.Monera (organisme
uniseluler tanpa ada nukleus),
5.Protista (eukariotik
yang mempunyai jaringan sederhana).
2.
Divisio (Divisi) atau juga Phylum (Filum)
Filum tersebut
digunakan untuk pada takson hewan, sedangkan pada divisi tersebut digunakan
untuk takson tumbuhan. Kingdom Animalia tersebut dibagi menjadi beberapa filum,
antara lain filum Chordata (memiliki notokorda saat embrio), filum
Echinodermata (hewan yang berkulit duri), dan juga filum Platyherlminthes
(cacing pipih). Nama pada devisi tumbuhan tersebut menggunakan akhiran -phyta.
Sebagai contoh ialah, kingdom Plantae yang dibagi menjadi 3(tiga) divisi yakni
ialah sebagai berikut :
1.Bryophyta (tumbuhan
lumut),
2.Ptheridophyta
(tumbuhan paku)
3.Spermatophyta
(tumbuhan berbiji).
3.
Classis (Kelas)
Anggota pada takson
setiap filum atau juga devisi dikelompokkan lagi ialah dengan berdasarkan
persamaan ciri-ciri tertentu. Nama kelas pada tumbuhan yang menggunakan akhiran
yang berbeda-beda, antara lain ialah
sebagai berikut :
1.edoneae (untuk
tumbuhan yang berbiji tertutup),
2.opsida (pada lumut),
3.phyceae (pada alga),
dan lain sebagainya.
Sebagai contohnya ialah
sebagai berikut :
divisi Angiospermae
dibagi menjadi dua kelas, yakni :
1.kelas Monocotyledone
2.kelas Dicotyledoneae;
divisi Bryophyta diklasifikasikan
menjadi 3 kelas, yakni ialah sebagai berikut :
1.Hepaticosida (lumut
hati),
2.Anthocerotopsida
(lumut tandak)
3.Bryopsida (lumut
daun)
filum Chrysophya
(ganggang keemasan) dikelompokkan menjadi 2 kelas, yakni ialah sebagai berikut
:
1.Xanthophyceae,
2.Bacillariophyceae.
4.
Ordo ( Bangsa)
Anggota pada takson
setiap kelas dikelompokkan lagi ialah menjadi beberapa ordo dengan berdasarkan
suatu persamaan ciri-ciri yang lebih khusus. Nama pada ordo terhadap takson
tumbuhan tersebut biasanya dengan menggunakan akhiran -ales. contoh ialah
sebagai berikut , kelas Dicotylesoneae yang dibagi ialah menjadi beberapa
ordonya, yakni sebagai berikut :
1.ordo Solanales,
2.Cucurbitales,
3.Malvales,
4.Rosales,
5.Asterales, dan juga
6.Poales.
5.
Familia (Famili/Suku)
Anggota pada tokson
setiap ordo tersebut dikelompokkan lagi ialah menjadi beberapa famili dengan
berdasarkan suatu persamaan ciri-ciri tertentu. Asal dari kata famili tersebut
yaitu dari bahasa latin yaitu familia. Nama pada famili terhadap tumbuhan tersebut biasanya dengan menggunakan akhiran
aceace. Sebagai contoh ialah sebagai berikut :
1.famili Solanaceace,
2.Cucurbitaceace,
3.Malvaceace,
4.Rosaceae,
5.Asteraceae, dan juga
6.Poaceae.
Tetapi, terdapat juga
yang tidak menggunakan dengan akhiran kata- aceae, sebagai contoh ialah sebagai
berikut :
1.Compasitae (nama lain
dari Asteraceae) dan
2.Graminae (nama lain
Poaceace).
6.
Genus (Marga)
Anggota pada takson
setiap familia tersebut yang kemudian dikelompokkan lagi menjadi beberapa genus
dengan berdasarkan suatu persamaan ciri-ciri tertentu yang lebih khusus lagi.
Kaidah ataupun tata cara dalam penulisan nama genus tersebut, yakni dengan
huruf besar pada kata pertama dan juga dicetak miring atau juga digaris bawahi.
contoh ialah sebagai berikut,
familia Poaceae terdiri
atas genus ialah sebagai berikut :
1.Zea (jagung),
2.Saccharum (tebu),
3.Triticum (gandum),
4.Oryza (padi-padian).
7.
Species (Spesies/Jenis)
Spesies ialah tingkatan
pada takson paling dasar atau juga paling terendah. Anggota pada takson spesies
tersebut mempunyai paling banyak persamaan ciri dan juga terdiri dari organisme
yang jika melakukan suatu perkawinan secara alamiah tersebut dapat menghasilkan
suatu keturunan yang fertil (subur).
Nama pada spesies
tersebut terdiri dari 2(dua) kata yakni
ialah sebagai berikut;
1.kata 1(pertama)
mengarah pada nama genusnya
2.kata 2(kedua)
mengarah pada nama spesifiknya
8.
Varietas atau ras
Dan pada
organisme-organisme satu spesies tersebut terkadang masih dapat ditemukan
perbedaan ciri yang sangat jelas, dan juga sangat khusus(bervariasi) sehingga
disebut dengan varietas (kultivar) yaitu ras. Istilah dari varietas dan
juga kultivar tersebut digunakan didalam
spesies tumbuhan, sedangkan pada istilah dari ras tersebut digunakan dalam spesies
hewan. Varietas tersebut dapat juga diartikan ialah secara botani dan juga
secara agronomi.
D. Persebaran Makhluk Hidup
Biogeografi adalah ilmu
yang mempelajari tentang penyebaran organisme di muka bumi. Organisme yang
dipelajari mencakup organisme yang masih hidup dan organisme yang sudah punah.
Dalam biogeografi
dipelajari bahwa penyebaran organisme dari suatu tempat ke tempat lainnya
melintasi berbagai faktor penghalang. Faktor-faktor penghalang ini menjadi
pengendali penyebaran organisme. Faktor penghalang yang utama adalah iklim dan
topografi. Selain itu, faktor penghalang reproduksi dan endemisme menjadi
pengendali penyebaran organisme.
Studi tentang penyebarn
spesies menunjukkan, spesies-spesies
berasal dari suatu tempat, namun selanjutnya menyebar ke berbagai
daerah. Organisme tersebut kemudian mengadakan diferensiasi menjadi subspesies
baru dan spesies yang cocok terhadap daerah yang ditempatinya.
Akibat dari hal
tersebut di atas maka di permukaan bumi ini terbentuk kelompok-kelompok hewan
dan tumbuhan yang menempati daerah yang berbeda-beda. Luas daerah yang dapat
ditempati tumbuhan maupun hewan, berkaitan dengan kesempatan dankemampuan
mengadakan penyebaran. Biogeografi mempelajari penyebaran hewan maupun tumbuhan
di permukaan bumi. Ilmu yang mempelajari peyebaran hewan di permukaan bumi
disebut zoogeografi.
Penyebaran hewan
berdasarkan luas cakupannya dapat dibedakan menjadi cakupan geografis, cakupan
geologis, dan cakupan ekologis. Cakupan geografis yaitu daerah penyebarannya
meliputi daratan dan sistem perairan. Cakupan geologis, yaitu keadaan daratan
dan lautan di masa lampau. Cakupan ekologis adalah daerah penyebarannya dengan
kondisi lingkungan yang sesuai.
Persebaran organisme di
bumi dipengaruhi oleh beberapa Faktor sebagai berikut:
1) Lingkungan
Dua faktor lingkungan
utama yang berpengaruh terhadap persebaran makhluk hidup adalah faktor fisik
(abiotik) adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), air, tanah, dan
ketinggian permukaan bumi, dan yang termasuk faktor non fisik (biotik) adalah
manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
a) Faktor Abiotik
Iklim
Faktor iklim termasuk
di dalamnya keadaan suhu, kelembaban udara dan angin sangat besar pengaruhnya
terhadap kehidupan setiap makhluk di dunia. Faktor suhu udara berpengaruh
terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan fisik tumbuhan. Sinar matahari
sangat diperlukan bagi tumbuhan hijau untuk proses fotosintesa. Kelembaban
udara berpengaruh pula terhadap pertumbuhan fisik tumbuhan. Sedangkan angin
berguna untuk proses penyerbukan. iklim yang berbeda-beda pada suatu wilayah
menyebabkan jenis tumbuhan maupun hewannya juga berbeda. Contohnya : Tanaman di
daerah tropis, banyak jenisnya, subur dan selalu hijau sepanjang tahun karena
bermodalkan curah hujan yang tinggi dan cukup sinar matahari. berbeda dengan
tanaman yang berada di daerah tundra.
Keadaan tanah
Perbedaaan jenis tanah,
seperti pasir, aluvial, dan kapur serta jumlah zat mineral yang terkandung
dalam humus mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh. Keadaan tekstur tanah
berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap
pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Di daerah tropis akan hidup
berbagai jenis tumbuhan, sedangkan di daerah gurun atau bersalju hanya akan
hidup tumbuhan tertentu. Tumbuhan kaktus salah satu tumbuhan yang mampu
beradaptasi dengan kondisi iklim dan keadaan tanah di gurun pasir. Perbedaan
jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan keanekaragaman tumbuhan yang dapat
hidup di suatu wilayah. Contohnya: di Nusa Tenggara jenis hutannya adalah
Sabana karena tanahnya yang kurang subur.
Air
Air mempunyai peranan
yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan karena dapat melarutkan dan membawa
makanan yang diperlukan bagi tumbuhan dari dalam tanah. Adanya air tergantung
dari curah hujan dan curah hujan sangat tergantung dari iklim di daerah yang
bersangkutan. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap
air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di
dalam tanah. Jenis flora di suatu wilayah sangat berpengaruh pada banyaknya
curah hujan di wilayah tersebut. Flora di daerah yang kurang curah hujannya
keanekaragaman tumbuhannya kurang dibandingkan dengan flora di daerah yang
banyak curah hujannya. Contohnya: di daerah gurun, hanya sedikit tumbuhan yang
dapat hidup, contohnya adalah pohon Kaktus dan tanaman semak berdaun keras. Di
daerah tropis banyak hutan lebat, pohonnya tinggi-tingi dan daunnya selalu
hijau.
Tinggi Rendah Permukaan Bumi
Permukaan bumi terdiri
dari berbagai macam relief, seperti pegunungan, dataran rendah, perbukitan dan
daerah pantai. Perbedaan tinggi-rendah permukaan bumi mengakibatkan variasi
suhu udara. Variasi suhu udara mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan. Hutan yang
terdapat di daerah pegunungan banyak dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Faktor
ketinggian permukaan bumi umumnya dilihat dari ketinggiannya dari permukaan
laut . Semakin tinggi suatu daerah semakin dingin suhu di daerah tersebut.
Demikian juga sebaliknya bila lebih rendah berarti suhu udara di daerah
tersebut lebih panas. Oleh sebab itu ketinggian permukaan bumi besar
pengaruhnya terhadap jenis dan persebaran tumbuhan. Daerah yang suhu udaranya
lembab, basah di daerah tropis, tanamannya lebih subur dari pada daerah yang
suhunya panas dan kering.
b) Faktor Biotik (Makhluk Hidup)
Makhluk hidup seperti
manusia, hewan dan tumbuhan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam persebaran
tumbuhan. Terutama manusia dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat
melakukan persebaran tumbuhan dengan cepat dan mudah. Hutan kota merupakan
jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biotik, terutama manusia.
Manusia juga mampu mempengaruhi kehidupan fauna di suatu tempat dengan
melakukan perlindungan atau perburuan binatang. Hal ini menunjukan bahwa faktor
manusia berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna di dunia ini. Contohnya:
daerah hutan diubah menjadi daerah pertanian, perkebunan atau perumahan dengan
melakukan penebangan, reboisasi,atau pemupukan.
Selain itu faktor hewan
juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan flora. Peranan faktor
tumbuh-tumbuhan adalah untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan
terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga mempengaruhi kehidupan
faunanya. hewan juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan flora.
contohnya: serangga dalam proses penyerbukan, kelelawar, burung, tupai membantu
dalam penyebaran biji tumbuhan. Peranan faktor tumbuh-tumbuhan adalah untuk
menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan
tumbuh-tumbuhan dan juga mempengaruhi kehidupan faunanya.
2) Sejarah geologi
Kira-kira 200 juta tahun yang lalu, yaitu pada periode
jurasik awal, benua-benua utama bersatu dalam superbenua (supercontinent) yang
disebutPangaea. Hipotesis ini disampaikan seorang ilmuwan Jerman. Alfred
Weneger pada tahun 1915. hipotesis ini disampaikan lewat bukunya yang berjudul
Asal-usul Benua-benua dan Lautan.
Pada awal tahun
1960-an, bukti-bukti mengenai pergerakan/pergeseran benua (continental drift)
berhasil ditemukan. Benua-benua yang tergabung dalam Pangea mulai memisah
secara bertahap. Terbukanya laut Atlantik Selatan dimulai kira-kira 125-130
juta tahun lalu, sehingga Afrika dan Amerika
Selatan bersatu secara langsung. Namun, Amerika Selatan juga telah
bergerak perlahan ke Amerika Barat dan keduanya dihubungkan tanah genting
Panama. Ini terjadi kira-kira 3,6 juta tahun yang lalu. Saat “jembatan” Panama
terbentuk secara sempurna, beberapa hewan dan tumbuhan dari Amerika Selatan
termasuk Oposum dan Armadillo bermigrasi ke Amerika Barat. Pada saat yang bersamaan beberapa hewn dan
tumbuhan dari Amerika Barat seperti oak, hewan rusa, dan beruang bermigrasi ke
Amerika Selatan. Jadi perubahan posisi baik dalam skala besar maupun kecil
berpengaruh besar dalam pola distribusi organisme, seperti yang kita saksikan
saat ini. Contoh lain adalah burung-burung yang tidak dapat terbang, misalnya
ostriks, rhea, emu, kasuari dan kiwi terlihat memiliki divergensi percabangan
sangat awal dalam perjalanan evolusi dari semua kelompok burung lainnya.
Akibatnya terjadilah subspesies tadi.
Australia adalah contoh
yang sesuai untuk mengetahui bagaimana gerakan benua-benua memengaruhi sifat
dan distribusi organisme. Sampai kira-kira 53 juta tahun lalu, Australia
dihubungkan dengan Antartika. Hewan khas Australi, yaitu mamalia berkantung
(marsupialia), yang ada pula meski sedikit di Amerika Selatan, secara nyata
terlihat sudah bergerak di antara kedua benua ini lewat Antartika.
3) Penghambat Fisik
Faktor penghambat fisik
disebut juga penghalang geografi atau barrier (isolasi geografi) seperti
daratan (land barrier), perairan (water barrier), dan penggentingan daratan
(isthmus). Contohnya adalah: gunung yang tinggi, padang pasir, sungai atau
lautan membatasi penyebaran dan kompetisi dari suatu spesies. Contoh kasusnya
adalah terjadinya subspesies burung finch di kepulauan Galapagos akibat isolasi
geografis. Di kepulauan tersebut, Charles Darwin menemukan 14 spesies burung
finch yang diduga berasal dari satu jenis burung finch dari Amerika Selatan.
Perbedaan burung finch tersebut akibat keadaan lingkungan yang berbeda.
Perbedaannya terletak pada ukuran dan bentuk paruhnya. Perbedaan ini ada
hubungannya dengan jenis makanan.
Kita mengetahui bahwa
makhluk hidup itu berkembangbiak, misalnya bagi makhluk yang hidup di daratan,
air merupakan hambatan (water barrier) sedangkan sebaliknya bagi makhluk air,
daratan merupakan hambatan (land barrier). Daratan yang sempit juga dapat menjadi
hambatan, misalnya Costarica di Amerika Tengah merupakan hambatan berupa filter
atau saringan Persebaran makhluk daratan Amerika Utara dan Amerika Selatan.
Selat Panama merupakan filter makhluk hidup di Samudra Atlantik dan Pasifik.
Sebaliknya, kepulauan dapat menjadi
jembatan penyebrangan antara Eurasia dan Australia.
Penyebaran hewan dari
protozoa sampai mamalia sebagian terjadi secara dinamis. Penyebaran secara
dinamis artinya hewan melakukan penyebaran oleh dirinya sendiri. Faktor luar
yang mempengaruhi penyebaran hewan maupun tumbuhan dan biasanya menghambat
dinamakan“barier” atau “sawar”. Sawar ini dapat dibedakan menjadi sawar fisik,
sawar iklim, dan sawar biologis.
Sawar fisik air menjadi
penghambat penyebaran hewan darat dan sebaliknya sawar fisik darat menjadi
penghambat penyebaran hewan air. Misalnya katak tidak apat hidup pada air asin.
Jadi salinitas merupakan penghambat bagi penyebaran hewan katak. Adapun luas
benua menjadi hambatan bagi penyebaran hewan air.
Sawar iklim seperti
temperatur rata-rata, musim, kelembapan, kuat lemahnya penyinaran serta lamanya
peyinaran sinar matahari. Sedangkan sawar biologis adalah tidak adanya makanan,
adanya predator, competitor, pesaing atau adanya penyakit. Penyebaran suatu
jenis serangga dibatasi penyebarannya oleh jenis tanaman sebagai makanan,
tempat berlindung, dan tempat untuk reproduksi. Pada kenyataannya, ketiga jenis
sawar tersebut bekerja secara terpadu untuk mempengaruhi atau menghambat
penyebaran suatu biota. Hal lain yang dapat menghambat penyebaran biota adalah
rendahnya toleransi terhadap kondisi faktor lingkungan yang maksimum atau
minimum. Hukum toleransi minimum Liebig yang menyatakan bahwa ketahanan makhluk
hidup disebabkan oleh adanya faktor esensil tetapi berada dalam kondisi yang minimum
dan individu tersebut memiliki daya toleransi yang rendah untuk dapat
beradaptasi. Bintang laut hidup pada berbagai kadar garam tetapi bintang laut
hanya dapat berkembangbiak pada air yang kadar garamnya sangat rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2004.
Makalah Pelatihan Dosen Mata Kuliah berkehidupan Bermasyarakat Ilmu Kealaman
Dasar (IAD). Medan: Pelatihan Nasional Dosen Mata Kuliah Ilmu kealaman Dasar
(IAD) Tanggal 28 s.d 30 Juli 2004 di Medan.
Hendro Darmodjo dan
Yeni Kaligis. 2004. Ilmu Alamiah Dasar. Ed. Rev. Jakarta: Universitas Terbuka.
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080724030819AAiWkTN
(Online). Diakses tanggal 17 Mei 2009.
http://langitselatan.com/2008/03/14/dari-manakah-asal-kehidupan-di-bumi/
(Online). Diakses tanggal 17 Mei 2009.
http://alumnisma4.blogspot.com/2008/10/dari-manakah-asal-kehidupan-di-bumi.html
(Online). Diakses tanggal 17 mei 2009.
http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1881934-faktor-yang-mempengaruhi-persebaran-makhluk/(Online).
Diakses tanggal 17 Mei 2009.
https://carlz185fr.wordpress.com/2013/05/08/penyebaran-makhluk-hidup/
http://www.gurupendidikan.com/pengertian-10-tingkatan-takson-dalam-klasifikasi/