Rabu, 24 Mei 2017

Biosfer dan Makhluk Hidup


1.      Biosfer

Setelah bola Bumi mengalami pendinginan dan terbentuknya benua, sungai, dan lautan pada kira-kira 2250 juta tahun lalu, terbentuklah wahana bakal biosfer, yaitu suatu tempat tinggal makhluk hidup melangsungkan kehidupannya. Dalam kehidupan makhluk hidup terbentuk sistem hubungan antar makhluk hidup tersebut dengan materi dan energi yang mengelilinginya. Tempat dan sistem itulah yang disebut biosfer.

Makhluk hidup memiliki ciri-ciri yaitu, (1) melakukan pertukaran zat atau metabolisme, (2) tumbuh, (3) berkembang biak, (4) memiliki kepekaan terhadap rangsangan, (5) memiliki kemampuan mengadakan adaptasi terhadap lingkungan.

2.      Evolusi Kehidupan

Makhluk hidup yang ada di permukaan bumi beraneka ragam, tetapi secara garis besar makhluk hidup dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu tumbuhan dan hewan. Tumbuhan yang termasuk makhluk, secara relatif tidak dapat pindah tempat (terutama tumbuhan tingkat tinggi), sedangkan yang berhijau daun (berchlorophyl) dapat membuat makananya sendiri dengan mengambil energi dari sinar matahari (autotroph). Sebaliknya, hewan seperti kebanyakan mobil, artinya bergerak atau pindah tempat. Hewan tidak dapat membentuk makanannya sendiri, maka ia mengambil makanan dari makhluk lain (heterotroph).

Sebagian besar para ahli berpendapat bahwa makhluk yang ada sekarang berasal dari makhluk dahulu yang melalui perubahan sedikit demi sedikit.

3.      Evolusi Manusia

Manusia adalah suatu spesies biologi. Dengan sendirinya, manusia tidak dapat luput dari pengaruh faktor-faktor atau kekuatan biologi. Di samping itu, manusia adalah suatu hasil perkembangan evolusi yang lama sekali. Bukti-bukti memberikan petunjuk bahwa manusia berasal dari makhluk yang bukan manusia, meskipun bukti-bukti tersebut tidak lengkap dan hanya berbentuk bagian yang melukiskan tahp-tahap proses yang telah berlangsung. Bukti-bukti tentang adanya evolusi manusia yang telah berlangsung semakin banyak dikumpulkan oleh para ahli. Lagi pula, saat ini evolusi manusaia juga tengah berlangsung dan yang lebih penting lagi biologi adalah suatu proses untuk mengumpulkan pengetahuan yang dapat memungkinkan manusia untuk menngontrol dan mengarahkan evolusi.

Kekuatan utama yang mengarahkan evolusi manusia adalah inteligensinya, kemampuannya mempergunakan bahasa dengan segala macam simbolnya dan kebudayaan yang dibina oleh manusia.

1.      Sifat-sifat dari Ordo Primata

Bila kita bandingkan sifat-sifat yang dipunyai oleh famili kera dengan manusia, maka dengan mudah akan terlihat persamaan-persamaan tertentu di samping perbedaannya
2.      Kera Manusia dari Afrika

Pada tahun 1924, Raymond Dart, seorang ahli anatomi, menemukan sebuah fosil tengkorak di Afrika Selatan. Ia menamakan nya Australopithecus, makhluk berjalan tegak, otaknya lebih besar dari gorila, gigi nya m=lebih mendekati manusia daripada kera. Ada pendapat bahwa makhluk tersebut adalah kera yang aneh dan tidak ada hubungannya dengan manusia. Para ahli lain berpendapat bahwa makhluk tersebut tergolong subfamilia Autralopithecinae yang tidak lagi didapati kerabat yang hidup yang mempunyai sifat-sifat campuran antara familia manusia dan familia kera.

3.      Homo Erectus

Pada tahun1920, Eugene Dubois, menemukan sisa-sisa tengkorak dan tulang paha di Trinil, Jawa Tengah. Fosil tersebut diberi nama Pithecanthropus erectus yang artinya manusia kera yang tegak.

4.      Manusia Modern

Lebih kurang 75.000 tahun yang lalu, ketika benua Eropa berada si zaman es terakhir dan dari peninggalan-peninggalan yang ditemukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok Neanderthal diganti oleh manusia lain yang menyerupai manusia modern, Homo Sapiens.


Daftar Pustaka


Jasin, M. (2002). Ilmu Alamiah Dasar. Surabaya: Rajawali Pers.

IPA, Teknologi, dan Kelangsungan Hidup Manusia

Sudah sejak zaman prasejarah manusia ada di bumi, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor-faktor penting dalam pembentukan masyarakat dan kebudayaan, namun sebenarnya antara keduanya terdapat perbedaan dalam tujuan penggunaanya. Di masa lampau, teknologi berperan untuk mengubah dan menguasai dunia fisik, sedangkan sains terutama digunakan untuk memahami kejadian-kejadian dunia fisik tersebut. Penggunaan teknologi modern telah dapat mempercepat laju pembangunan, namun penggunaanya tanpa hati-hati dan kendali telah dirasakan menimbulkan masalah. Krisis energi, makin langkanya beberapa sumber daya dan bahan, polusi lingkungan dan pengendalian senjata nuklir merupakan akibat dari tiadanya pembatasan dalam penggunaan teknologi. Masalah pokok dunia di masa mendatang adalah keterbatasan suber-sumber daya alam dan energi, dan masalah peledakan penduduk dengan segala konsekuensinya. Oleh karena itu manusia harus memiliki usaha untuk masa mendatang baik mencari sumber daya alternatif dan juga pelestariannya.

1.      Usaha Manusia Untuk Masa Mendatang

a.   Energi Matahari : cahaya matahari dapat diubah menjadienergi listrik dengan jalan menangkap cahaya matahari itu dengan beribu-ribu fotosel. Fotosel dapat dibuat dari silikon yang dilapisi satu sisinya dengan boron dan sisi yang lain dengan arsen. Untuk mendapatkan voltase yang tinggi dan arus yang kuat, ribuan fotosel itu dihubungkan secara paralel. Energi cahaya matahari dapat juga diubah menjadi energi panas denganpertolongan cermin cekung, sedangkan intensitas cahaya matahari yang datang ke cermin itu dipertinggi dengan memantulkan cahaya matahari dari tempat lain (suatu tebing) dengan menggunakan cermin datar.
b.   Energi panas bumi : panas dari gunung berapi bersumber dari magma. Apabila dekat magma itu terdapat cadangan air maka air itu akan mendapatkan panas. Rembesanya ke permukaan dapat berupa sumber air panas, semburan uap atau semburan air panas. Jika dilakukan pemboran di tempat itu akan didapat uap air panas yang menyembur atau air panas saja tergantung pada kondisi cadangan air, letak pemboran, dan sebagainya. Panas bumi berupa uap air panas itu dapat digunakan untuk menggerakkan turbin yang dapat menggerakkan generator listrik.
c. Energi angin : langsung dapat diubahmenjadi listrik dengan menggunakan kincir angin yang dihubungkan dengan generator listrik.
d. Energi pasang surut : dapat dimanfaatkan dengan menggunakan dan dengan pintu-pintu air yang dapat diatur pembukaannya. Pada saat air laut pasang atau surut, maka air laut itu akan masuk dan keluar, melalui pintu-pintu air. Di pintu air itulah dipasang turbinyang dapat menggerakkan generator listrik.


e. Energi biogas : pada prinspnya adalah memanfaatkan sampah pembusukan dengan pertolongan bakteri pengurai. Bakteri itu didapatkan dari kotoran kerbau atau sapi. Gas yang sebagian besar adalah gas metan yang dapat dibakar untuk kompor di dapur atau untuk keperluan lain.
f. Energi biomassa : yang digunakan sebagai bahan bakar adalah sampah organik. Panas yang timbul dipakai untuk memanaskan air/ketel uap. Uap yang timbul dipakai untuk menggerakkan generator listrik.

2.      Usaha Manusia Untuk Pelestariannya
Empat masalah yang menonjol  yang perlu ditanggulangi demi kelestarian hidup manusia di masa mendatang adalah :
a.       Masalah energi pengganti minyak bumi.
b.      Penggunaan teknologi yang tepat guna dengan mengurai dampak negatifnya.
c.       Masalah laju pertumbuhan penduduk yang harus ditanggulangi, antara lain dengan KB.
d.      Masalah kelestarian lingkungan hidup yang merupakan tanggung jawab dan diusahakan bersama.


Daftar Pustaka

Aly, A., & Rahma, E. (2009). Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.


Dampak Perkembangan IPA dan Teknologi Terhadap Kehidupan Sosial

1.      Dampak Terhadap Pencapaian Kemakmuran dan Perluasan Kemudahan

Perkembangan IPA dan Teknologi dapat mendatangkan kemakmuran materi seperti timbulnya ilmu pengetahuan baru berupa teknik kimia, sipil, nucleur, listrik dan mekanik.
Dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan baru tersebut, kita dapat memperoleh hasilnya seperti teknik kimia, orang dapat mendirikan industri kimia dasar yang dapat menghasilkan bahan-bahan dasar untuk keperluan industri lain seperti asam sulfat, asam nitrat, asam klorida, dan lain-lain.

2.      Dampak Terhadap Pendayagunaan Sumber Daya Alam

(1) Dampak Positif

Pemanfaatan
Perkembangan IPA dan Teknologi dapat menaikan kuantitas produksi
seperti di bidang pertanian dengan ditemukan nya pupuk yang paling tepat atas teori material dengan ditentukannya jenis tanah suatu lahan, kandungan unsur unsur yang diperlukan oleh tanaman. Pada bidang industri seperti pengolahan minyak kelapa sawit dengan menggunakan teknologi modern untuk pengolahannya dengan temperatur dan tekananyang telah diatur sesuai alat yang digunakan akan dapat memperoleh hasil yang lebih banyak dibanding cara tradisional.

Pengembangan IPA dan teknologi dapat manaikkan kualitas/mutu produksi. Dengan teknologi material yang didukung oleh konsep-konsep IPA, para ahli makin menguasai sifat maupun pemanfaatan suatu seyawa, dengan mengubah/mereaksikan sehingga mendapatkan senyawa baru dengan kualitas sesuai yang diinginkan. Misalnya, pada pengolahan minyak bumi, yang semula kita mengenal bensin, sekarang kita mengenal premium di mana premium dikatakan lebih baik karena mempunyai nilai oktan yang lebih tinggi sehingga tidak cepat merusak alat atau mesin yang menggunakan alat tersebut.

Pengolahan sumber daya alam yang efektif dan effisien dapat menambah ragam produksi, misalnya, dengan kemajuan teknologi kita dapat mengekspor ketela pohon dengan menfermentasi, maka ketela pohon dapat pula menghasilkan gula yang dikenal dengan gula cair.

(2) Dampak Negatif

Pendayagunaan sumber daya alam dengan teknologi dapat pula menimbulkan dampak negatif apabila dilaksanakan secara tidak bertanggung jawab. Misalnya, timbulnya pemborosan penggunaan sumber daya alam.


3.      Dampak Terhadap Transportasi dan Komunikasi

(1) Dampak positif dalam rangka keberhasilan manusia

Perkembangan IPA dan Teknologi telah dapat merubah sistem transportasi dan komunikasi dalam kehidupan manusia. Sebelum adanya Perkembangan IPA dan Teknologi transportasi di darat dilakukan dengan berjalan kaki, berkuda, unta. Di laut transportasi menggunakan kapal layar, sedang lewat udara belum dikenal. Sedangkan setelah Perkembangan IPA dan Teknologi orang dapat membuat sarana dan prasarana transportasi maupun komunikasi seperti di darat ada sepeda motor, mobil, bis, kereta, jembatan, untuk di laut sudah ada kapal laut dengan bobot bermacam-macam dengan prasarananya seperti pelabuhan yang dapat dimasuki kapal, di udara juga sudah ada pesawat terbang. Demikian juga teknologi komunikasi hasil Perkembangan IPA dan Teknologi seperti radio, televisi, tape recorder, radar, datelit komunikasi.

(2) Dampak negatif kebisingan, pencemaran, perubahan alam yang tak estetis

Pencemaran suara dapat diakibatkan karena konstruksi alatnya maupun karena ulah orang yang kurang bertanggung jawab dalam menggunakan alat-alat tersebut.Dalam kemajuan Perkembangan IPA dan Teknologi banyak orang tidak bertanggung jawab yang merusak alam sekitar dengan tidak estetis.

4.      Dampak Terhadap Peningkatan Kesehatan

(1) Dampak positif dalam upaya manusia memberatkan penyakit menular

Perkembangan IPA dan Teknologi dapat meningkatkan ilmu dan fasilitas di bidang kedokteran, sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan untuk masarakat seperti, pencucian darah, cangkok jantung, pemasangan alat picu jantung, dan lain-lain. Perkembangan IPA dan Teknologi juga dapat meningkatkan teknologi obat-obatan dan memberantas penyakit menular.

(2) Dampak negatif secara tidak langsung membantu timbulnya penyakit tertentu

Perkembangan IPA dan Teknologi tidak terlepas dari dampak negatif, yaitu timbulnya penyakit-penyakit tertentu, baik langsung maupun tidak langsung, seperti penyakit kanker, merupakan suatu penyakit yang belum ditemukan obatnya yang di duga akibat Perkembangan IPA dan Teknologi dari kehidupan modern. Kehidupan modern di duga menjadi penyebab kanker misalnya adanya pencemaran udara dari indudtri  atau kendaraan bermotor.




5.      Dampak Terhadap Sumber Daya Manusia

(1) Dampak Positif

Perkembangan IPA dan Teknologi dapat membuka banyak lapangan pekerjaan baru, di mana sumber daya manusia dapat berperan, baik tenaga maupun pikiran, Perkembangan IPA dan Teknologi juga dapat menaikkan kualitas sumber daya manusia dengan tersedianya sarana dan prasarana penunjang kegiatan ilmiah.

(2) Dampak Negatif

Pemanfaatan Perkembangan IPA dan Teknologi juga dapat mempersempit lapangan pekerjaan, misalnya banyak pekerjaan yang mula-mula menjadi tugas manusia dapat diganti oleh mesin.

6.      Re-Evaluasi Peranan IPA dan Teknologi Dalam Kehidupan Manusia

Unit-unit kehidupan kita ternyata berbeda-beda, baik tempat yang satu dengan tempat yang lain. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan jenis, jumlah, atau makhluk hidup yang ada.

Daftar Pustaka


Ahmadi, A., & Supatmo, A. (2008). Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Jumat, 19 Mei 2017

Mitos dan Metode Ilmiah

Sebelum pola pikir manusia berkembang pesat,terutama pemahaman filosofis terhadap kehidupan alamiah manusia serta berbagai pandangan tentang alam jagat raya ini. menurut kodratnya, manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu terhadap seluruh kehidupan yang dilakoninya. Mereka mempercayai hal-hal yang terjadi pada alam ada kaitannya dengan hal-hal ghaib seperti bumi gelap karena digenggam oleh raksasa yang sedang marah dan manusia harus meredakan kemarahannya dengan berbagai cara misalnya memberi sesaji dan persembahan lainnya yang terkadang mengorbankan nyawa manusia sebagai tumbal demi ketentraman hidup manusia yang mempercayai hal begitu. Padahal kejadian tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah,yaitu karena adanya gerhana matahari.
 Metode ilmiah merupakan suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi (fakta-fakta) tentang berbagai fenomena alam dan kehidupan yang disusun secara sistematis, objektif dan logis. Metode ilmiah bersifat objektif, metodik, sistematik, serta berlaku umum (generalisasi).

Langkah-langkah yang dilakukan dalam metode ilmiah meliputi: observasi atau pengamatan, perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir, menentukan hipotesis, prediksi atau peramalan, pengujian hipotesis atau eksperimen, penarikan kesimpulan, serta publikasi.
Ada tiga teori kebenaran dalam berpikir ilmiah, yaitu teori koherensi, teori korespondensi, dan teori pragmatisme. Ilmu-ilmu alam pada umumnya menuntut kebenaran yang korespondensi karena fakta- fakta objektif sangat dituntut terhadap setiap pernyataan.

Metode ilmiah merupakan suatu langkah terhadap pengejaran kebenaran yang ditur dalam pertimbangan-pertimbangan logis. Metode ilmiah tidak saja berguna dalam proses penemuan dan pembuktian ilmu pengetahuan, namun terlebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmiah.


Dengan mengetahui tentang metode ilmiah dan tahapan-tahapan dalam metode ilmiah, dapat kita pergunakan sebagai bekal dalam penelitian yang akan kita gunakan nantinya. Tampaknya dengan perkembangan alam pikiran yang semakin luas, manusia tidak akan berhenti berpikir dan mencari tahu tentang suatu kebenaran, sehingga pembuktian ilmiah sangat diperlukan untuk membuktikan keingintahuan manusia akan kebenaran tersebut.

Jumat, 14 April 2017

KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DAN PERSEBARANNYA

KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DAN PERSEBARANNYA

Image result for unswagati

Disusun oleh,
1.     Sulthan Zaki                  (116040137)
2.     Euis Amalia S N  (116040135)
3.     Rizka Fatmala      (116040127)
Akuntansi 1-F

UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
Jalan Pemuda No. 32, Sunyaragi, Kesambi, Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 45132, Indonesia





DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................     3
Biosfer dan Makhluk Hidup ..............................................................................................    4
Asal Mula Kehidupan dan Evolusi Makhluk Hidup di Bumi ............................................   10
Keanekaragaman Makhluk Hidup ......................................................................................   14
Persebaran Makhluk Hidup ................................................................................................   20
Daftar Pustaka ....................................................................................................................   27















KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Allah SWT karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas “Keanekaragaman Makhluk Hidup dan Persebaranya”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.














A.        Biosfer dan Makhluk Hidup
Biosfer
Biosfer adalah zona tipis di bumi dan di atas permukaan bumi yang tidak lebih dari 20 km tebalnya. Sampai saat ini, bumi merupakan satu-satunya tempat di alam dunia yang diketahui terdapat kehidupan dan tempat makhluk hidup melangsungkan segala aktivitas hidupnya. Makhluk hidup itu selalu berinteraksi dengan lingkungannya, yang terdiri dari lingkungan tak hidup (abiotik) dan lingkungan hidup (biotik).

Biosfer terdiri dari sebagian lapisan atmosfer dan lapisan kulit bumi. Lapisan atmosfer adalah merupakan lapisan udara di atas bumi membungkus bumi dengan gas-gas dan terdiri dari 3 lapisan utama:

Ionosfer     : (berada lebih dari 80 km di atas muka bumi).
Stratosfer  : (berada pada 16 – 80 km di atas muka bumi).
Troposfer   : (berada pada 0 – 16 km di atas muka bumi).

Troposfer adalah lapisan yang dinamis, di mana terdapat uap air yang dapat membentuk awan dan hujan periodik. Sampai saat ini, baru diketahui bahwa makhluk hidup hanya dapat beraktivitas di lapisan troposfer ini.

Lapisan kulit bumi terdiri dari dua bagian:

Litosfer : merupakan bagian yang padat dari lapisan kulit bumi
Hidrosfer : merupakan bagian yang cari dari lapisan kulit bumi

Seperti diketahui, makhluk hidup tinggal dan beraktivitas di kedua lapisan kulit bumi tersebut. Jadi makhluk hidup hanya dapat beraktivitas pada lapisan troposfer dari atmosfer, hidrosfer dan litosfer. Oleh karena itu, ketiga lapisan tersebut disebut dengan lapisan biosfer.

Sel Sebagai Unit Kehidupan
Sel merupakan unit kehidupan, baik dari segi struktural, pertumbuhan, reproduksi, hereditas dan fungsional. Sel sebagai unit struktural maksudnya adalah sel merupakan satuan terkecil penyusun tubuh organisme. Organisme multiseluler, tubuhnya dibangun oleh banyak sel yang diperoleh dari pembelahan mitosis berulang-ulang sebuah sel tunggal (monoseluler) yang disebut zigot. Akibatnya organisme mengalami pertumbuhan. Oleh karena itu dikatakan sel sebagai unit pertumbuhan. Zigot dihasilkan dari peleburan sel kelamin (sel benih) jantan dan betina. Karena dari sel kelamin dapat dihasilkan individu baru, sel dikatakan juga sebagai unit produksi. Masing-masing sel kelamin (sel kelamin jantan dan sel kelamin betina) membawa materi genetik (genom) sebagai penentu sifat (karakter) yang akan diwariskan kepada turunannya (individu baru). Sifat oleh karena itu sel dikatakan juga sebagai unit hereditas. Di dalam masing-masing sel penyusun tubuh makhluk hidup terselenggara semua aktivitas kehidupan, baik pada organisme uniseluler, organisme yang selnya bergabung membentuk koloni dan pada organisme uniseluler. Pada organisme uniseluler, seluruh aktivitas hidup dilaksanakan oleh sel tersebut. Pada organisme yang berbentuk koloni belum tampak diferensiasi fungsi yang jelas dari masing-masing sel penyusun koloninya. Sedangkan organisme multiseluler terdapat diferensiasi fungsi untuk menjalankan aktivitas kehidupan. Komposisi kimiawi sel yang spesifik, kemampuan melaksanakan metabolisme, reproduksi, tumbuh menjadi besar, tanggap terhadap rangsang dan berdaur hidup adalah hal-hal yang membedakan organisme dengan benda mati.

Agar dapat melaksanakan seluruh aktivitas hidup, sel harus memiliki bagian-bagian utama, yaitu membran plasma, protoplasma (cairan sel atau sitoplasma dengan seluruh organel-organel sel yang terdapat di dalamnya), dan nukleus yang mengandung materi genetik (genom).


Reproduksi Sel dan Makhluk Hidup

Reproduksi Sel
Reproduksi sel dapat diartikan sel memperbanyak diri, baik yang terjadi pada organisme tingkat sel (uniseluler) maupun yang terjadi pada sel-sel penyusun tubuh organisme multiseluler.

Reproduksi sel dapat dibedakan atas: amitosis dan meiosis. Amitosis adalah pembelahan langsung tanpa melalui tahapan. Pada amitosis, mula-mula nukleus membelah kemudian diikuti pembagian sitoplasma dari sel induk, dan dari satu sel induk bisa terbentuk dua sel baru atau lebih. Mitosi adalah pembelahan sel melalui beberapa tahapan utama yaitu: profase, metafase, anafase dan telofase. Mitosis ditujukan untuk memperbanyak sel, biasanya terjadi pada proses pertumbuhan individu dan perbaikan (pengganti) sel-sel tubuh yang rusak. Pembelahan mitosis akan menghasilkan sel anak yang merupakan duplikat sel induknya, dimana jumlah dan kandungan kromosom sel anak dipertahankan sama seperti jumlah dan kandungan kromosom sel induknya, dan dari satu sel induk dihasilkan dua sel anak. Meiosis adalah pembelahan sel yang bersifat reduksi dari sel yang diploid menjadi sel haploid (terjadi penurunan jumlah kromosom sel anak menjadi setengah jumlah kromosom sel induknya), dan dari satu sel induk menjadi empat sel anak. Meiosis terdiri dari dua tahap pembelahan yaitu meiosis I dan meiosis II. Meiosis I terdiri dari profase I yang terbagi lagi menjadi 5 fase yaitu leptonema, zygonema, pakhinema, diplonema, dan diakinesis. Pada profase I ini terjadi peristiwa crossing over yang berakibat keragaman genetik pada sel anak (gamet). Akibatnya variasi individu yang dihasilkan dari peleburan gamet jantan dan gamet betina sangat banyak. Metafase I, anafase I dan telofase I adalah mekanisme pemisahan kromosom yang homolog dan menghasilkan 2 sel anak dengan kromatid diad. Miosis II terdiri dari profase II, metafase II, anafase II dan telofase II dan merupakan mekanisme pemisahan kromatid diad serta menghasilkan 4 sel anak dengan kromosom haploid. Meiosis terjadi pada proses pembentukan sel kelamin pada sistem reproduksi bagi individu yang bereproduksi secara seksual.


b.      Reproduksi Makhluk Hidup
Bagi setiap makhluk hidup, ada saatnya dimana kemampuan untuk melaksanakan metabolisme, pertumbuhan, dan daya tanggapnya terhadap rangsang tidak memadai lagi untuk mempertahankan organisasinya yang rumit terhadap kekuatan-kekuatan lain. Serangan pemangsa, parasit, kelaparan, faktor lingkungan yang ekstrim, atau proses menua (aging) dapat mematikan makhluk hidup. Oleh karena itu, sebelum makhluk hidup menghasilkan individu baru melalui proses reproduksi.

Proses yang dilakukan oleh makhluk hidup untuk menghasilkan individu baru (keturunan) dari jenisnya dinamakan reproduksi (perkembangbiakan). Tujuan reproduksi adalah untuk mempertahankan kelestarian suatu spesies (jenis) makhluk hidup.

Banyak cara reproduksi yang dilakukan oleh organisme. Cara-cara  reproduksi tersebut dikelompokkan atas: 1) reproduksi aseksual (vegetatif), dan 2) reproduksi seksual (generatif).

Reproduksi aseksual adalah jenis reproduksi yang dilakukan oleh suatu organisme dengan melibatkan sel tubuh saja tanpa melibatkan sel kelamin. Pada hewan, perkembangbiakan seperti ini umumnya hanya dijumpai pada hewan rendah, misalnya paramaecium, amoeba, dan euglena dengan membelah diri; hydra dan ubur-ubur dengan bertunas; bintang laut dan planaria dengan fragmentasi. Pada tumbuhan reproduksi aseksual dilakukan oleh tumbuhan rendah sampai tumbuhan tinggi; misalnya membentuk spora pada algae dan lumut; tunas, umbi, rizoma pada tumbuhan tinggi.

Reproduksi seksual adalah perkembangbiakan makhluk hidup yang melibatkan sel kelamin (gamet). Dengan demikian, yang dimaksud reproduksi seksual bukan hanya perkembangbiakan melalui perkawinan (peleburan sel kelamin jantan dan betina) saja, tetapi partenogenesis pun termasuk di dalamnya. Partenogenesis adalah reproduksi seksual dimana gamet betina (ovum) tumbuh menjadi embrio tanpa menyatu dengan gamet jantan (sperma). Partenogenesis ini dijumpai pada lebah, semut, lalat buah, dan lain-lain. Konyugasi pun dimasukkan ahli ke dalam jenis reproduksi seksual.

Selain reproduksi yang berlangsung secara alami, kita kenal pula ada reproduksi buatan, baik yang dilakukan secara in vivo maupun in vitro. Reproduksi buatan biasanya dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan kesejahteraannya. Misalnya reproduksi buatan yang dilakukan pada tumbuhan dan hewan ternak.

1)      Reproduksi Alami pada Hewan

Hewan dapat melakukan reproduksi aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual pada hewan sedikit terjadi jika dibandingkan dengan tumbuhan, dan hanya terbatas pada hewan tingkat rendah, yaitu dengan cara pembelahan sel, pertunasan (“budding”), dan fragmentasi.

–          Pembelahan: Terjadi pada hewan bersel satu (Protozoa), misalnya amoeba, paramaecium, dan euglena.

–          Pertunasan (budding): Terjadi  pada Hydra sp, ubur-ubur, dan lain-lain. Keturunan baru berkembang dari tunas yang tumbuh pada tubuh induk. Pada beberapa spesies, misalnya ubur-ubur dan Hydra sp, tunas akan lepas dan dapat hidup bebas. Pada koral, tunas tetap terikat pada tubuh induk dan menyebabkan terjadinya koloni.

–          Fragmentasi: Terjadi pada beberapa jenis cacing (misalnya planaria), bintang laut, ular, dan lain-lain. Pada beberapa jenis cacing, setelah tubuh mencapai ukuran normal (dewasa), secara spontan cacing tersebut terbagi-bagi menjadi delapan atau sembilan bagian. Setiap bagian akan berkembang menjadi cacing dewasa dan proses ini terulang kembali.

Reproduksi seksual merupakan cara reproduksi pada hampir semua hewan mulai hewan tingkat rendah sampai hewan tingkat tinggi. Reproduksi seksual melibatkan kelenjar kelamin (gonad) untuk menghasilkan gamet jantan (sperma) dan gamet betina (ovum atau sel telur). Pada umumnya reproduksi seksual terjadi melalui penyatuan sperma dan ovum saat berlangsungnya pembuahan (fertilisasi), walaupun pada partenogenesis ovum dapat berkembang menjadi individu baru tanpa fertilisasi. Sperma memiliki bentuk dan ukuran yang jauh berbeda dengan ovum sehingga disebut heterogamet.

2)      Reproduksi Alami pada Tumbuhan

Sebagaimana yang terjadi pada hewan, tumbuhan juga melakukan reproduksi aseksual dan seksual. Bedanya, pada tumbuhan, semua tingkatan mulai dari tumbuhan tingkat rendah sampai tumbuhan tingkat tinggi mampu melakukan reproduksi aseksual maupun seksual. Pada tumbuhan, fertilisasi dan meiosis membagi kehidupan individu menjadi dua fase atau generasi, yaitu generasi gametofit mulai dengan spora yang dihasilkan saat meiosis. Spora ini haploid dan semua sel yang diturunkannya juga haploid. Diantara sel-sel yang dihasilkan generasi sporofit mulai dengan zigot yang diploid, semua sel yang berasal dari sini  yang berkembang dengan cara mitosis juga diploid. Akhirnya sel-sel tertentu akan menjalani meiosis sehingga terbentuk spora-spora, pertanda dimulai kembali generasi gametofit.

3)      Reproduksi Buatan

Reproduksi buatan umumnya sengaja dilakukan oleh manusia untuk menunjang kesejaheraanya. Reproduksi buatan ini dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro. Reproduksi vegetatif buatan sangat banyak dilakukan manusia pada tumbuhan, misalnya memperbanyak tanaman dengan stek, cangkok, menyambung, menempel, dan lain-lain. Kesemua cara ini ditujukan agar tanaman berproduksi dalam waktu yang cepat dan kualitas baik.

Pada hewan ternak, reproduksi buatan in vivo dilakukan dengan mempertemukan gamet jantan dan betina tetap dalam tubuh hewan betina, tetapi dengan metode kawin suntik. Pada proses ini, sperma dari hewan jantan yang kita inginkan ditransfer ke dalam saluran kelamin hewan betina yang sedang birahi dengan sejenis alat yang mempunyai jarum suntik, sehingga disebut kawin suntik.

Pada reproduksi buatan in vitro (yang sangat dikenal dengan bayi tabung pada manusia), reproduksi dilakukan dengan cara menyatukan gamet jantan dan gamet betina di luar tubuh hewan yang bersangkutan, yang biasanya digunakan cawan petri, karena itulah disebut in vitro  yang secara harfiah artinya di dalam gelas (cawan). Setelah terjadi pembuahan dalam cawan, embrio dibiarkan berkembang sampai stadium blastula, kemudian ditransfer ke dalam rongga uterus (rahim) ibu. Di dalam rahim itu embrio berkembang, berimplantasi, dan menjadi individu baru seperti pada kehamilan biasa. Teknik seperti ini sering disebut bayi tabung.

B.         Asal Mula Kehidupan dan Evolusi Makhluk Hidup di Bumi
1.      Hipotesis tentang Asal Mula Kehidupan
Pertanyaan mengenai bagaimana kehidupan pertama dimulai di bumi masih menjadi pendebatan dari dahulu sampai sekarang. Aristoteles 3,5 abad sebelum masehi mengemukakan teori abiogenesis yang menyatakan bahwa makhluk hidup muncul secara spontan dari benda mati (generatio spontanea). Penemuan jasad renik oleh Anthonie Van Leeuwenhoek abad ke 17 pada air rendaman jerami dianggap oleh pendukungnya sebagai bukti pendukung teori abiogenesis. Teori ini ditentang oleh Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani dan Louis Pasteur dengan teori biogenesis, yang meyakini bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup yang telah ada sebelumnya. Hasil penelitian yang mereka lakukan mengungkapkan bahwa: setiap kehidupan berasal dari telur (omme visum ex ovo), setiap telur berasal dari kehidupan sebelumnya (omne ovum ex vivo), dan setiap kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya (omne vivum ex vivo).

Skenario hipotesis, organisme pertama merupakan produk suatu evolusi kimiawi yang terdiri dari tahapan-tahapan berikut:

Sintesis abiotistas hidup dan akumulasi molekul organik kecil atau monomer seperti asam amino dan nukleoida.
Penyatuan monomer-monomer menjadi polimer, termasuk protein dan asam nukleat (DNA dan RNA).
Segregasi molekul-molekul tersebut menjadi droplet (tulisan) yang disebut dengan protobion.
Protobion asal mula hereditas untuk menjalankan fungsi kehidupan.
Evolusi kimia ini didukung dengan postulat dari Oparin dan J.B.S. Haldane, bahwa bumi primitif mendukung terjadinya reaksi kimia untuk mensintesis senyawa organik yang berasal dari prekursor organik yang terdapat pada atmosfer dan lautan purbakala. Atmosfer pereduksi (penambah elektron) semacam itu meningkatkan penggabungan molekul sederhana untuk membentuk moleku komplek.

Pada tahun 1953 Stanley Miller dan Harold Urey menguji hipotesis Oparin-Haldane dengan percobaan di laboratorium. Keadaan percobaan dibuat sesuai dengan keadaan bumi purbakala. Atmosfer dalam model Miller-Urey terdiri dari H2O, H2, CH4 (metana) dan NH3 (amoniak), yang diyakini banyak terdapat di dunia purbakala. Percobaan mereka menghasilkan berbagai jenis asam amino dan senyawa organik lainnya.

Banyak laboratorium mengulangi percobaan Miller-Urey dengan menggunakan berbagai jenis campuran sebagai susunan atmosfer. Banyak pula saintis yang meragukan bahwa kondisi atmosfer purbakala berperan penting dalam reaksi kimia purbakala.

Banyak diantara ahli biologi sekarang membayangkan suatu “dunia RNA”, suatu periode awal dalam evolusi kehidupan ketika molekul RNA berfungsi sebagai gen yang belum sempurna dan sebagai katalis organik. Beberapa saintis telah menguji beberapa hipotesis mengenai RNA yang bereplikasi sendiri. Polimer pendek ribonukleotida telah dihasilkan secara abiotik dalam percobaan di dalam laboratorium.

Protobion tumbuh dan membelah membagikan salinannya kepada keturunan, keturunannya akan beranekaragam karena adanya mutasi dalam penyalinan RNA. Evolusi dalam pengertian Darwinian yang sesungguhnya keberhasilan reproduktif yang berbeda pada individu yang berbeda, agaknya mengumpulkan banyak perbaikan pada metabolisme primitif dan pewarisan. Salah satu tren mengarah ke RNA sebagai materi hereditas. Pada mulanya, RNA dapat menyediakan cetakan tempat perakitan nukleotida DNA. Akan tetapi DNA merupakan tempat penyimpanan informasi genetik yang lebih stabil dari RNA, dan begitu DNA muncul, molekul RNA menulis peranan barunya sebagai perantara dalam translasi (perterjemahan) kodegenetik. “Dunia RNA” membuka jalan bagi “dunia DNA”.

Perdebatan mengenai asal mula kehidupan di bumi sangat banyak, dengan cara apapun bahan kimia prebiotik berakumulasi membentuk polimer dan akhirnya bereproduksi di bumi, lompatan dari satu kumpulan molekul menjadi sel-sel prokariotik yang paling sederhana merupakan suatu peristiwa yang sangat besar dan perubahan pastilah telah terjadi dalam banyak tahapan evolusi yang lebih kecil. Kita mengetahui melalui bukti fosil bahwa prokariotik sudah mulai mengalami pertumbuhan sekitar 3,5 miliar tahun silam dan semua garis keturunan muncul dari prokariotik kuno tersebut.

2.      Proses Evolusi Makhluk Hidup di Bumi
Beberapa episode utama dalam sejarah kehidupan yang penentuan waktu kejadiannya berdasarkan pada bukti fosil dan analisis molekuler menunjukkan perubahan makhluk hidup dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks dan bervariasi terjadi karena DNA mengalami perubahan kode genetik (mutasi). Kode genetik yang paling sesuaid keadaan lingkungan akan mendapat peluang yang lebih baik untuk berkembang. Organisasi yang dapat bertahan hidup di lingkungan tertentu disebut dengan adaptasi. Makhluk hidup yang mampu beradaptasi terhadap lingkungan hidupnya dapat mengembangkan populasinya, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan punah inilah yang disebut dengan seleksi alamiah (natural selection).

Kehidupan dimulai sangat dini dalam sejarah bumi, dan organisme pertama merupakan nenek moyang dari keanekaragaman biologis yang kita lihat saat ini. Organisme makroskopis dan multiseluler terutama tumbuhan dan hewan serta manusia berasal dari organisme mikroskopis dan uniseluler (bersel tunggal).

Dari sejarah kehidupan di bumi, diperkirakan bumi dibentuk 4,5 milyar tahun silam. Kehidupan di bumi diperkirakan bermula antara 3,5 – 4.0 miliar tahun silam. Setelah bumi cukup dingin muncul kehidupan pertama sekitar 3,8 miliar tahun silam yang dibuktikan dengan isotop karbon hasil aktivitas metabolis organisme dalam batuan yang berumur 3,8 miliar tahun silam di Greenland (tanah hijau di kutup Utara), yang diperkirakan oleh saintis adalah organisme prokariotik. Organisme prokariotik berfilamen berumur 3,5 miliar tahun silam, fosilnya ditemukan di Afrika Selatan dan Australia Barat. Kehidupan prokariotik purba ini ditemukan pada batuan yang disebut stromatolit (bahasa Yunani: stroma = tempat tidur, dan lithos  = batu). Stromatolit adalah kubah bergaris-garis yang tersusun dari batuan sedimen. Fosil tersebut saat ini merupakan fosil organisme hidup tertua yang diketahui. Namun demikian fosil yang terdapat di Australia Barat tampak seperti organisme fotosintetik, yang mungkin merupakan organisme penghasil oksigen. Jika demikian halnya, maka mungkin kehidupan telah berkembang jauh sebelum organisme ini hidup, kemungkinan sekitar 4,0 miliar tahun silam.

Sekitar 2,5 miliar tahun silam produksi oksigen (O2) oleh prokariotik primitif dan menciptakan atmosfer aerob yang memulai suatu tahapan untuk evolusi kehidupan aerob. Sementara evolusi prokariotik terus berlanjut, beberapa organisme mampu menggunakan oksigen untuk metabolisme makhluk organik atau (siano bakteri fotosintetik). Sekitar 1,7 miliar tahun silam sel eukariotik telah berevolusi dari komunitas prokariota. Organisme multiselule muncul sebelum hewan tertua muncul di sekitar 500 juta tahun silam dan evolusi terus terjadi seiring dengan pergeseran benua. Zaman keemasan reptil, tumbuhan berbunga dan mamalia ada pada zaman mesozoikum dan awal senozoikum. Akhirnya, makhluk hidup dengan segala kompleksitas struktur tubuh dan beranekaragam spesies seperti yang kita lihat sekarang ini diduga terjadi akibat proses evolusi dalam waktu yang sangat panjang. Manusia berada pada puncak evolusi makhluk hidup.




C.    Keanekaragaman Makhluk Hidup
1.      Penyebab Keanekaragaman Makhluk Hidup
Tidak ada makhluk hidup di alam ini yang persis sama satu dengan yang lain jika dilihat dari sifat atau karakter yang tampak maupun dari sifat atau karakter yang tidak tampak. Masing-masing individu dalam suatu jenis (spesies) memperlihatkan perbedaan bentuk tubuh, warna, ukuran, kecerdasan, dan lain-lain. Bahkan individu-individu yang berasal dari induk yang sama, juga menunjukkan perbedaan sifat. Apalagi jika dibandingkan individu yang berbeda jenisnya. Semua ini menunjukkan adanya keanekaragaman makhluk hidup. Pertanyaan yang muncul adalah: Mengapa terjadi keanekaragaman makhluk hidup? Apakah makhluk hidup yang beranekaragam ini berasal dari nenek moyang yang sama? Para ahli telah mencoba mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Bahkan telah mencoba pula menyusun hipotesis tentang bagaimana munculnya makhluk hidup yang beranekaragam tersebut.

Menurut para ahli, keanekaragaman makhluk hidup seperti yang kita lihat sekarang ini terbentuk dari proses evolusi. Ketika bumi baru saja terbentuk, yang terjadi adalah proses evolusi yang lebih besar, yang kemudian memunculkan sel pertama (ancestor cell). Setelah dalam waktu yang cukup lama dalam sejarah evolusi, dari sel pertama ini kemudian memunculkan organisme multiseluler pada awal era Paleozoikum. Proses evolusi makhluk hidup berlanjut seiring dengan perubahan iklim dan pergeseran benua. Pada akhirnya sebagai hasil proses evolusi, bermunculanlah beranekaragam makhluk hidup. Zaman keemasan Reptilia, Tumbuhan Berbunga, dan Mammalia terjadi pada akhir era Mesozoikum (Mesozoic) dan awal era Senozoikum (cenozoic).

Walaupun Charles Robert Darwin mencetuskan evolusi sebagai suatu teori yang menyebabkan makhluk hidup berubah dan menjadi beraneka ragam melalui proses seleksi alam dalam waktu yang sangat lama, namun ia belum mengetahui tentang DNA dan mekanisme pewarisannya. Namun demikian diketahui bahwa variasi yang ada pada individu bersifat genetis. Kemudian diketahui bahwa sumber terjadinya variasi adalah mutasi, yaitu perubahan susunan kimiawi DNA yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan waktu lama. Mutasi memodifikasi DNA dan menyebabkan terjadinya spesies baru (spesiasi). Jadi mekanisme evolusi adalah akumulasi perubahan secara bertahap dalam kurun waktu lama, sampai suatu kelompok organisme cukup nyata berbeda dari kelompok asalnya sehingga dapat disebut sebuah spesies baru. Hal tersebut dapat terjadi bila ada penghalang fisik yang memisahkan suatu populasi induknya (yang akan menghasilkan spesiasi alopatrik), atau gene pools mereka menjadi terpisah akibat adanya variasi lingkungan  (yang akan menghasilkan spesiasi parapatrik). Pola evolusi dikenal dengan evolusi divergen (bila dua atau lebih spesies berevolusi dari sebuah leluhur yang sama), dan evolusi konvergen (bila evolusi organisme yang berasal dari leluhur yang berbeda, beradaptasi pada lingkungan hidup yang sama).

Keanekaragaman makhluk hidup menunjukkan totalitas variasi gen, jenis dan ekosistem yang dijumpai di suatu daerah. Keanekaragaman makhluk hidup menyatakan terdapatnya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat lain yang terlihat pada tingkat yang berdeda-beda. Keanekaragaman makhluk hidup meliputi berbagai macam aspek seperti ciri-ciri morfologi, anatomi, fisiologi, dan tingkah laku makhluk hidup yang selanjutnya akan menyusun suatu ekosistem tertentu. Keanekaragaman makhluk hidup tidak hanya terjadi antar jenis tetapi juga di dalam satu jenis. Keanekaragaman antar jenis misalnya antara bawang merah dengan bawang putih, sedangkan keanekaragaman dalam satu jenis misalnya antara varietas padi, padi Jawa, padi Cianjur dan lain-lain.

2.      Pengelompokan (Klasifikasi Makhluk Hidup)
Untuk mengetahui ciri-ciri morfologi, anatomi, fisiologi, perilaku atau ciri-ciri lainnya dari makhluk hidup, langkah pertama yang harus dilakukan adalah identifikasi yaitu menentukan nama ilmiah dan kelompok makhluk hidup sesuai dengan Kode Tata Nama Internasional. Identifikasi merupakan kegiatan utama klasifikasi, dengan klasifikasi keanekaragaman hayati makhluk hidup dapat dipelajari dan dipahami dengan lebih mudah dan utuh.

Klasifikasi makhluk hidup dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu sistem buatan (artifisial), sistem alamiah dan sistem filogenetik. Sistem buatan yaitu pengelompokan makhluk hidup yang didasarkan lebih banyak kepada ciri-ciri morfologi atau habitatnya, tetapi penggunaan ciri-ciri alami masih terbatas sehingga kelompok-kelompok yang dihasilkan juga terbatas.

Tingkatan pada Takson dalam Klasifikasi antara lain ialah sebagai berikut ini :

1.      Regnum (Dunia) atau juga  Kingdom (Kerajaan)
Kingdom ialah tingkatan pada takson yang paling tinggi dengan jumlah anggota pada takson terbesar. Organisme pada bumi tersebut dikelompokkan menjadi 5 kingdom, antara lain ialah sebagai berikut kingdom :
1.Animalia (ialah hewan),
2.Plantae (ialah tumbuhan),
3.fungi (jamur),
4.Monera (organisme uniseluler tanpa ada nukleus),
5.Protista (eukariotik yang mempunyai jaringan sederhana).

2.      Divisio (Divisi) atau juga Phylum (Filum) 
Filum tersebut digunakan untuk pada takson hewan, sedangkan pada divisi tersebut digunakan untuk takson tumbuhan. Kingdom Animalia tersebut dibagi menjadi beberapa filum, antara lain filum Chordata (memiliki notokorda saat embrio), filum Echinodermata (hewan yang berkulit duri), dan juga filum Platyherlminthes (cacing pipih). Nama pada devisi tumbuhan tersebut menggunakan akhiran -phyta. Sebagai contoh ialah, kingdom Plantae yang dibagi menjadi 3(tiga) divisi yakni ialah sebagai berikut :






1.Bryophyta (tumbuhan lumut),
2.Ptheridophyta (tumbuhan paku)
3.Spermatophyta (tumbuhan berbiji).

3.      Classis (Kelas)
Anggota pada takson setiap filum atau juga devisi dikelompokkan lagi ialah dengan berdasarkan persamaan ciri-ciri tertentu. Nama kelas pada tumbuhan yang menggunakan akhiran yang berbeda-beda,  antara lain ialah sebagai berikut :
1.edoneae (untuk tumbuhan yang berbiji tertutup),
2.opsida (pada lumut),
3.phyceae (pada alga), dan lain sebagainya.



Sebagai contohnya ialah sebagai berikut :
divisi Angiospermae dibagi menjadi dua kelas, yakni :

1.kelas Monocotyledone
2.kelas Dicotyledoneae;

divisi Bryophyta diklasifikasikan menjadi 3 kelas, yakni ialah sebagai berikut :

1.Hepaticosida (lumut hati),
2.Anthocerotopsida (lumut tandak)
3.Bryopsida (lumut daun)

filum Chrysophya (ganggang keemasan) dikelompokkan menjadi 2 kelas, yakni ialah sebagai berikut :

1.Xanthophyceae,
2.Bacillariophyceae.

4.      Ordo ( Bangsa)
Anggota pada takson setiap kelas dikelompokkan lagi ialah menjadi beberapa ordo dengan berdasarkan suatu persamaan ciri-ciri yang lebih khusus. Nama pada ordo terhadap takson tumbuhan tersebut biasanya dengan menggunakan akhiran -ales. contoh ialah sebagai berikut , kelas Dicotylesoneae yang dibagi ialah menjadi beberapa ordonya, yakni sebagai berikut :
1.ordo Solanales,
2.Cucurbitales,
3.Malvales,
4.Rosales,
5.Asterales, dan juga
6.Poales.

5.      Familia (Famili/Suku)
Anggota pada tokson setiap ordo tersebut dikelompokkan lagi ialah menjadi beberapa famili dengan berdasarkan suatu persamaan ciri-ciri tertentu. Asal dari kata famili tersebut yaitu dari bahasa latin yaitu familia. Nama pada famili terhadap tumbuhan  tersebut biasanya dengan menggunakan akhiran aceace. Sebagai contoh ialah sebagai berikut :
1.famili Solanaceace,
2.Cucurbitaceace,
3.Malvaceace,
4.Rosaceae,
5.Asteraceae, dan juga
6.Poaceae.

Tetapi, terdapat juga yang tidak menggunakan dengan akhiran kata- aceae, sebagai contoh ialah sebagai berikut :

1.Compasitae (nama lain dari Asteraceae) dan
2.Graminae (nama lain Poaceace).

6.      Genus (Marga)
Anggota pada takson setiap familia tersebut yang kemudian dikelompokkan lagi menjadi beberapa genus dengan berdasarkan suatu persamaan ciri-ciri tertentu yang lebih khusus lagi. Kaidah ataupun tata cara dalam penulisan nama genus tersebut, yakni dengan huruf besar pada kata pertama dan juga dicetak miring atau juga digaris bawahi. contoh ialah sebagai berikut,
familia Poaceae terdiri atas genus ialah sebagai berikut :

1.Zea (jagung),
2.Saccharum (tebu),
3.Triticum (gandum),
4.Oryza (padi-padian).

7.      Species (Spesies/Jenis)
Spesies ialah tingkatan pada takson paling dasar atau juga paling terendah. Anggota pada takson spesies tersebut mempunyai paling banyak persamaan ciri dan juga terdiri dari organisme yang jika melakukan suatu perkawinan secara alamiah tersebut dapat menghasilkan suatu keturunan yang fertil (subur).
Nama pada spesies tersebut terdiri dari  2(dua) kata yakni ialah sebagai berikut;
1.kata 1(pertama) mengarah pada nama genusnya
2.kata 2(kedua) mengarah pada nama spesifiknya

8.      Varietas atau ras
Dan pada organisme-organisme satu spesies tersebut terkadang masih dapat ditemukan perbedaan ciri yang sangat jelas, dan juga sangat khusus(bervariasi) sehingga disebut dengan varietas (kultivar) yaitu ras. Istilah dari varietas dan juga  kultivar tersebut digunakan didalam spesies tumbuhan, sedangkan pada istilah dari ras tersebut digunakan dalam spesies hewan. Varietas tersebut dapat juga diartikan ialah secara botani dan juga secara agronomi.

D.    Persebaran Makhluk Hidup
Biogeografi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran organisme di muka bumi. Organisme yang dipelajari mencakup organisme yang masih hidup dan organisme yang sudah punah.
Dalam biogeografi dipelajari bahwa penyebaran organisme dari suatu tempat ke tempat lainnya melintasi berbagai faktor penghalang. Faktor-faktor penghalang ini menjadi pengendali penyebaran organisme. Faktor penghalang yang utama adalah iklim dan topografi. Selain itu, faktor penghalang reproduksi dan endemisme menjadi pengendali penyebaran organisme.
Studi tentang penyebarn spesies menunjukkan, spesies-spesies  berasal dari suatu tempat, namun selanjutnya menyebar ke berbagai daerah. Organisme tersebut kemudian mengadakan diferensiasi menjadi subspesies baru dan spesies yang cocok terhadap daerah yang ditempatinya.
Akibat dari hal tersebut di atas maka di permukaan bumi ini terbentuk kelompok-kelompok hewan dan tumbuhan yang menempati daerah yang berbeda-beda. Luas daerah yang dapat ditempati tumbuhan maupun hewan, berkaitan dengan kesempatan dankemampuan mengadakan penyebaran. Biogeografi mempelajari penyebaran hewan maupun tumbuhan di permukaan bumi. Ilmu yang mempelajari peyebaran hewan di permukaan bumi disebut zoogeografi.
Penyebaran hewan berdasarkan luas cakupannya dapat dibedakan menjadi cakupan geografis, cakupan geologis, dan cakupan ekologis. Cakupan geografis yaitu daerah penyebarannya meliputi daratan dan sistem perairan. Cakupan geologis, yaitu keadaan daratan dan lautan di masa lampau. Cakupan ekologis adalah daerah penyebarannya dengan kondisi lingkungan yang sesuai.
Persebaran organisme di bumi dipengaruhi oleh beberapa Faktor sebagai berikut:
1)      Lingkungan
Dua faktor lingkungan utama yang berpengaruh terhadap persebaran makhluk hidup adalah faktor fisik (abiotik) adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), air, tanah, dan ketinggian permukaan bumi, dan yang termasuk faktor non fisik (biotik) adalah manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.








a)      Faktor Abiotik

     Iklim

Faktor iklim termasuk di dalamnya keadaan suhu, kelembaban udara dan angin sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan setiap makhluk di dunia. Faktor suhu udara berpengaruh terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan fisik tumbuhan. Sinar matahari sangat diperlukan bagi tumbuhan hijau untuk proses fotosintesa. Kelembaban udara berpengaruh pula terhadap pertumbuhan fisik tumbuhan. Sedangkan angin berguna untuk proses penyerbukan. iklim yang berbeda-beda pada suatu wilayah menyebabkan jenis tumbuhan maupun hewannya juga berbeda. Contohnya : Tanaman di daerah tropis, banyak jenisnya, subur dan selalu hijau sepanjang tahun karena bermodalkan curah hujan yang tinggi dan cukup sinar matahari. berbeda dengan tanaman yang berada di daerah tundra.

     Keadaan tanah

Perbedaaan jenis tanah, seperti pasir, aluvial, dan kapur serta jumlah zat mineral yang terkandung dalam humus mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Di daerah tropis akan hidup berbagai jenis tumbuhan, sedangkan di daerah gurun atau bersalju hanya akan hidup tumbuhan tertentu. Tumbuhan kaktus salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan keadaan tanah di gurun pasir. Perbedaan jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan keanekaragaman tumbuhan yang dapat hidup di suatu wilayah. Contohnya: di Nusa Tenggara jenis hutannya adalah Sabana karena tanahnya yang kurang subur.




     Air

Air mempunyai peranan yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan karena dapat melarutkan dan membawa makanan yang diperlukan bagi tumbuhan dari dalam tanah. Adanya air tergantung dari curah hujan dan curah hujan sangat tergantung dari iklim di daerah yang bersangkutan. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Jenis flora di suatu wilayah sangat berpengaruh pada banyaknya curah hujan di wilayah tersebut. Flora di daerah yang kurang curah hujannya keanekaragaman tumbuhannya kurang dibandingkan dengan flora di daerah yang banyak curah hujannya. Contohnya: di daerah gurun, hanya sedikit tumbuhan yang dapat hidup, contohnya adalah pohon Kaktus dan tanaman semak berdaun keras. Di daerah tropis banyak hutan lebat, pohonnya tinggi-tingi dan daunnya selalu hijau.

    Tinggi Rendah Permukaan Bumi

Permukaan bumi terdiri dari berbagai macam relief, seperti pegunungan, dataran rendah, perbukitan dan daerah pantai. Perbedaan tinggi-rendah permukaan bumi mengakibatkan variasi suhu udara. Variasi suhu udara mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan. Hutan yang terdapat di daerah pegunungan banyak dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Faktor ketinggian permukaan bumi umumnya dilihat dari ketinggiannya dari permukaan laut . Semakin tinggi suatu daerah semakin dingin suhu di daerah tersebut. Demikian juga sebaliknya bila lebih rendah berarti suhu udara di daerah tersebut lebih panas. Oleh sebab itu ketinggian permukaan bumi besar pengaruhnya terhadap jenis dan persebaran tumbuhan. Daerah yang suhu udaranya lembab, basah di daerah tropis, tanamannya lebih subur dari pada daerah yang suhunya panas dan kering.




b)     Faktor Biotik (Makhluk Hidup)

Makhluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam persebaran tumbuhan. Terutama manusia dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan persebaran tumbuhan dengan cepat dan mudah. Hutan kota merupakan jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biotik, terutama manusia. Manusia juga mampu mempengaruhi kehidupan fauna di suatu tempat dengan melakukan perlindungan atau perburuan binatang. Hal ini menunjukan bahwa faktor manusia berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna di dunia ini. Contohnya: daerah hutan diubah menjadi daerah pertanian, perkebunan atau perumahan dengan melakukan penebangan, reboisasi,atau pemupukan.
Selain itu faktor hewan juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan flora. Peranan faktor tumbuh-tumbuhan adalah untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga mempengaruhi kehidupan faunanya. hewan juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan flora. contohnya: serangga dalam proses penyerbukan, kelelawar, burung, tupai membantu dalam penyebaran biji tumbuhan. Peranan faktor tumbuh-tumbuhan adalah untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga mempengaruhi kehidupan faunanya.

2)      Sejarah geologi

Kira-kira 200  juta tahun yang lalu, yaitu pada periode jurasik awal, benua-benua utama bersatu dalam superbenua (supercontinent) yang disebutPangaea. Hipotesis ini disampaikan seorang ilmuwan Jerman. Alfred Weneger pada tahun 1915. hipotesis ini disampaikan lewat bukunya yang berjudul Asal-usul Benua-benua dan Lautan.
Pada awal tahun 1960-an, bukti-bukti mengenai pergerakan/pergeseran benua (continental drift) berhasil ditemukan. Benua-benua yang tergabung dalam Pangea mulai memisah secara bertahap. Terbukanya laut Atlantik Selatan dimulai kira-kira 125-130 juta tahun lalu, sehingga Afrika dan Amerika  Selatan bersatu secara langsung. Namun, Amerika Selatan juga telah bergerak perlahan ke Amerika Barat dan keduanya dihubungkan tanah genting Panama. Ini terjadi kira-kira 3,6 juta tahun yang lalu. Saat “jembatan” Panama terbentuk secara sempurna, beberapa hewan dan tumbuhan dari Amerika Selatan termasuk Oposum dan Armadillo bermigrasi ke Amerika Barat.  Pada saat yang bersamaan beberapa hewn dan tumbuhan dari Amerika Barat seperti oak, hewan rusa, dan beruang bermigrasi ke Amerika Selatan. Jadi perubahan posisi baik dalam skala besar maupun kecil berpengaruh besar dalam pola distribusi organisme, seperti yang kita saksikan saat ini. Contoh lain adalah burung-burung yang tidak dapat terbang, misalnya ostriks, rhea, emu, kasuari dan kiwi terlihat memiliki divergensi percabangan sangat awal dalam perjalanan evolusi dari semua kelompok burung lainnya. Akibatnya terjadilah subspesies tadi.
Australia adalah contoh yang sesuai untuk mengetahui bagaimana gerakan benua-benua memengaruhi sifat dan distribusi organisme. Sampai kira-kira 53 juta tahun lalu, Australia dihubungkan dengan Antartika. Hewan khas Australi, yaitu mamalia berkantung (marsupialia), yang ada pula meski sedikit di Amerika Selatan, secara nyata terlihat sudah bergerak di antara kedua benua ini lewat Antartika.

3)      Penghambat Fisik

Faktor penghambat fisik disebut juga penghalang geografi atau barrier (isolasi geografi) seperti daratan (land barrier), perairan (water barrier), dan penggentingan daratan (isthmus). Contohnya adalah: gunung yang tinggi, padang pasir, sungai atau lautan membatasi penyebaran dan kompetisi dari suatu spesies. Contoh kasusnya adalah terjadinya subspesies burung finch di kepulauan Galapagos akibat isolasi geografis. Di kepulauan tersebut, Charles Darwin menemukan 14 spesies burung finch yang diduga berasal dari satu jenis burung finch dari Amerika Selatan. Perbedaan burung finch tersebut akibat keadaan lingkungan yang berbeda. Perbedaannya terletak pada ukuran dan bentuk paruhnya. Perbedaan ini ada hubungannya dengan jenis makanan.
Kita mengetahui bahwa makhluk hidup itu berkembangbiak, misalnya bagi makhluk yang hidup di daratan, air merupakan hambatan (water barrier) sedangkan sebaliknya bagi makhluk air, daratan merupakan hambatan (land barrier). Daratan yang sempit juga dapat menjadi hambatan, misalnya Costarica di Amerika Tengah merupakan hambatan berupa filter atau saringan Persebaran makhluk daratan Amerika Utara dan Amerika Selatan. Selat Panama merupakan filter makhluk hidup di Samudra Atlantik dan Pasifik. Sebaliknya, kepulauan dapat menjadi  jembatan penyebrangan antara Eurasia dan Australia.
Penyebaran hewan dari protozoa sampai mamalia sebagian terjadi secara dinamis. Penyebaran secara dinamis artinya hewan melakukan penyebaran oleh dirinya sendiri. Faktor luar yang mempengaruhi penyebaran hewan maupun tumbuhan dan biasanya menghambat dinamakan“barier” atau “sawar”. Sawar ini dapat dibedakan menjadi sawar fisik, sawar iklim, dan sawar biologis.

Sawar fisik air menjadi penghambat penyebaran hewan darat dan sebaliknya sawar fisik darat menjadi penghambat penyebaran hewan air. Misalnya katak tidak apat hidup pada air asin. Jadi salinitas merupakan penghambat bagi penyebaran hewan katak. Adapun luas benua menjadi hambatan bagi penyebaran hewan air.
Sawar iklim seperti temperatur rata-rata, musim, kelembapan, kuat lemahnya penyinaran serta lamanya peyinaran sinar matahari. Sedangkan sawar biologis adalah tidak adanya makanan, adanya predator, competitor, pesaing atau adanya penyakit. Penyebaran suatu jenis serangga dibatasi penyebarannya oleh jenis tanaman sebagai makanan, tempat berlindung, dan tempat untuk reproduksi. Pada kenyataannya, ketiga jenis sawar tersebut bekerja secara terpadu untuk mempengaruhi atau menghambat penyebaran suatu biota. Hal lain yang dapat menghambat penyebaran biota adalah rendahnya toleransi terhadap kondisi faktor lingkungan yang maksimum atau minimum. Hukum toleransi minimum Liebig yang menyatakan bahwa ketahanan makhluk hidup disebabkan oleh adanya faktor esensil tetapi berada dalam kondisi yang minimum dan individu tersebut memiliki daya toleransi yang rendah untuk dapat beradaptasi. Bintang laut hidup pada berbagai kadar garam tetapi bintang laut hanya dapat berkembangbiak pada air yang kadar garamnya sangat rendah.





DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2004. Makalah Pelatihan Dosen Mata Kuliah berkehidupan Bermasyarakat Ilmu Kealaman Dasar (IAD). Medan: Pelatihan Nasional Dosen Mata Kuliah Ilmu kealaman Dasar (IAD) Tanggal 28 s.d 30 Juli 2004 di Medan.

Hendro Darmodjo dan Yeni Kaligis. 2004. Ilmu Alamiah Dasar. Ed. Rev. Jakarta: Universitas Terbuka.

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080724030819AAiWkTN (Online). Diakses tanggal 17 Mei 2009.

http://langitselatan.com/2008/03/14/dari-manakah-asal-kehidupan-di-bumi/ (Online). Diakses tanggal 17 Mei 2009.

http://alumnisma4.blogspot.com/2008/10/dari-manakah-asal-kehidupan-di-bumi.html (Online). Diakses tanggal 17 mei 2009.

http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1881934-faktor-yang-mempengaruhi-persebaran-makhluk/(Online). Diakses tanggal 17 Mei 2009.

https://carlz185fr.wordpress.com/2013/05/08/penyebaran-makhluk-hidup/


http://www.gurupendidikan.com/pengertian-10-tingkatan-takson-dalam-klasifikasi/